halaman

    Social Items

BERITA-BERITA TERBARU

JAKARTA, (suararakyatmerdeka.com)--
Polemik sekitar UU ITE dimasyarakat sebagai alat penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya, menjadi bahasan Prof.Dr.Andi Hamzah. Pakar Hukum Pidana - ILC( 05/02/2019), kurang lebih menyatakan.....                                       

1). "UU ITE adalah hukum administrasi tidak digunakan utk memidana  orang , bila ada kesalahan administrasi yg ada adalah membayar denda atau wajib kerja sosial. Sanksi ini dimaksudkan agar setiap orang menaati UU tersebut".                                         

2). Ujaran kebencian di berbagai dunia terlebih di negara demokrasi dimana kebebasan berekspresi adalah HAM. Hal tsb bukanlah delik pidana.

Pemberlakuan ujaran kebencian di Indonesia (sejarahnya) sbg delik pidana itu adalah hukum kolonial utk mempertahankan kekuasaan yg di negeri Belanda sendiri tdk ditemui  pasal tsb.

Bila saat ini ujaran kebencian sbg delik pidana pada UU ITE, itu berlebihan dan meneruskan semangat kolonial. Substansi ujaran kebencian sebetulnya sdh diatur  KUHP pada pasal "Penghinaan".                                 

3). Perlu direnungkan agar bangsa ini tidak terjebak saling dendam berkelanjutan (antara yg sedang berkuasa dan oposisi). Perlu diatur kembali penataan hukum di Indonesia.

Khusus UU ITE jangan lagi dijadikan sbg  alat "melanjutkan SPIRIT KOLONIALISME" yaitu mempertahankan kekuasaan.

Cukuplah UU ITE sbg hukum administrasi. Bila saat ini dirasakan KETIDAK ADILAN dalam penegakkan hukum pada UU ITE tsb seperti dikeluhkan.

Kenapa aduan si A diproses sedangkan laporan si B diabaikan, Sebaiknya keduanya tdk usah diproses.

POLEMIK UU ITE, SEBAGAI ALAT SANG PENGUASA


JAKARTA, (suararakyatmerdeka.com)--
Polemik sekitar UU ITE dimasyarakat sebagai alat penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya, menjadi bahasan Prof.Dr.Andi Hamzah. Pakar Hukum Pidana - ILC( 05/02/2019), kurang lebih menyatakan.....                                       

1). "UU ITE adalah hukum administrasi tidak digunakan utk memidana  orang , bila ada kesalahan administrasi yg ada adalah membayar denda atau wajib kerja sosial. Sanksi ini dimaksudkan agar setiap orang menaati UU tersebut".                                         

2). Ujaran kebencian di berbagai dunia terlebih di negara demokrasi dimana kebebasan berekspresi adalah HAM. Hal tsb bukanlah delik pidana.

Pemberlakuan ujaran kebencian di Indonesia (sejarahnya) sbg delik pidana itu adalah hukum kolonial utk mempertahankan kekuasaan yg di negeri Belanda sendiri tdk ditemui  pasal tsb.

Bila saat ini ujaran kebencian sbg delik pidana pada UU ITE, itu berlebihan dan meneruskan semangat kolonial. Substansi ujaran kebencian sebetulnya sdh diatur  KUHP pada pasal "Penghinaan".                                 

3). Perlu direnungkan agar bangsa ini tidak terjebak saling dendam berkelanjutan (antara yg sedang berkuasa dan oposisi). Perlu diatur kembali penataan hukum di Indonesia.

Khusus UU ITE jangan lagi dijadikan sbg  alat "melanjutkan SPIRIT KOLONIALISME" yaitu mempertahankan kekuasaan.

Cukuplah UU ITE sbg hukum administrasi. Bila saat ini dirasakan KETIDAK ADILAN dalam penegakkan hukum pada UU ITE tsb seperti dikeluhkan.

Kenapa aduan si A diproses sedangkan laporan si B diabaikan, Sebaiknya keduanya tdk usah diproses.

No comments