halaman

    Social Items

BERITA-BERITA TERBARU
foto web


( SUARA RAKYAT MERDEKA.COM )--
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal,dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo, menyebut dengan adanya dana desa yang diberikan oleh pemerintah pusat, diharapkan seluruh desa yang tersebar di seluruh Indonesia dapat berkembang, mandiri, dan sejahtera.

"Formulasinya gimana, jadi dari total dana desa yang telah dialokasikan tersebut, sebesar 80% dibagi rata dan 20% itu dialokasikan sebagai dana tambahan atau afirmasi kepada desa yang miskin, tertinggal, dan terluar. Sehingga desa miskin dapat mengejar ketertinggalannya," katanya dalam keterangan tertulis pada Seminar bertema 'Komunikasi Pembangunan untuk Pengembangan Potensi Daerah' di Bengkulu, (30/10/2018).

Lebih lanjut, Eko menyampaikan bahwa dana desa hingga saat ini telah mampu menunjukkan hasil terbaiknya dengan telah terbangunnya sarana dan prasarana penunjang aktivitas ekonomi masyarakat, seperti terbangunnya 1.028.225 meter jembatan, dan jalan desa 158.619 kilo meter.

Kemudian fasilitas seperti pasar desa sebanyak 7.421 unit, kegiatan BUMDes sebanyak 35.145 unit, embung desa sebanyak 3.026 unit, sarana irigasi sebanyak 39.656 unit serta sarana-prasarana penunjang lainnya.

"Bukan itu saja, dengan dana desa juga mampu tersedianya sarana prasarana penunjang kualitas hidup masyarakat desa melalui pembangunan 942.927 unit sarana air bersih, 178.034 unit MCK, 8.028 unit Polindes, 48.694 unit PAUD, 18.477 unit Posyandu, serta drainase 39.920.120 unit maupun sumur bor sebanyak 37.662 unit," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Eko juga menyampaikan terkait program inovasi desa dan program prukades. Untuk program inovasi desa, Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo menilai bahwa Program Inovasi Desa (PID) telah menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan angka kemiskinan di desa-desa yang cukup signifikan.

Saat ini telah terdapat sebanyak 30.000 inovasi desa yang telah dikumpulkan dalam bentuk dokumen tertulis maupun bentuk video yang telah dishare agar bisa ditiru oleh desa-desa lainnya supaya desa-desa akan menjadi lebih berkembang dan maju.

"Kita telah bekerja sama dengan bank dunia dengan membuat program inovasi desa. Program ini untuk membuat inkubasi untuk merangsang masyarakat desa supaya berinovasi. kita lakukan serentak, kita berikan pelatihan. Dengan program ini cepat membuat desa maju dan berkembang karena kita dokumentasikan agar bisa ditiru oleh desa lainnya," katanya.

Sementara itu, tambah Eko, terkait dengan program Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) itu juga menjadi faktor meningkatnya pertumbuhan desa. Dengan program Prukades ini, dia meminta kepada setiap daerah untuk menentukan tiga produk unggulannya yang selanjutnya ketiga produk unggulan ini akan dihubungkan ke kementerian terkait, dunia usaha dan perbankan untuk membantu mengembangkan prukades.

"Dengan model prukades ini, sejumlah Kementerian terkait turut memberikan dukungan bagi para pengusaha maupun perbankan agar menjadi lebih mudah untuk masuk ke desa. Sehingga, pertumbuhan ekonomi di desa akan terus meningkat," paparnya.

Oleh karena itu, dengan sejumlah program yang ada di pemerintahan pusat melalui sejumlah kementerian diperlukan suatu komunikasi yang intens dari pemerintah daerah kepada pemerintah pusat agar sejumlah program yang ada untuk diberikan kepada daerah bisa berjalan dan dilaksanakan dengan baik.

Tentang Kemendes PDTT
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi adalah kementerian yang mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pembangunan desa dan kawasan perdesaan, pemberdayaan masyarakat desa, percepatan pembangunan daerah tertinggal, dan transmigasi untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.

Kemendes PDTT memiliki 4 program prioritas untuk percepatan pembangunan desa, yaitu Prukades (Produk Unggulan Kawasan Pedesaan), membangun Embung Desa, mengembangkan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa), membangun Raga Desa (Sarana Olahraga Desa). Untuk percepatan pembangunan desa, Kemendes PDTT juga memiliki program bernama Inovasi Desa.

Sepuluh Desa Dianggap Paling Sukses Manfaatkan Dana Desa
Pemanfaatan Dana Desa tak sekadar membangun infrastruktur, tapi juga meningkatkan perekonomian warga. Sepuluh desa pun disebut-sebut sukses memberdayakan dana yang dikucurkan dari pemerintah pusat itu untuk menjadi sumber penghasilan bagi warganya.

Kepala Biro Humas dan Kerjasama Bonny Prasetya mengatakan pemanfaatan awal Dana Desa untuk membangun infrastruktur seperti jalan desa dan membangun kamar mandi. Setelah itu, desa-desa diarahkan untuk meningkatkan sumber daya manusia berikut perekonomian warga.

Bonny mengatakan total jumlah Dana Desa yang dikucurkan mulai 2018 yaitu Rp187 triliun untuk lebih 74.957 desa. Semula, tiap desa mendapatkan nilai yang sama. Namun, jumlah tersebut berbeda di tahun berikutnya.

"Karena besaran itu disesuaikan dengan kategori desa, yaitu desa tertinggal, berkembang, dan mandiri. Dana desa untuk kategori miskin bisa jadi lebih besar daripada mandiri. Karena kebutuhan untuk membangun desa tertinggal lebih banyak," ujar Bonny kepada Media ditemui di ruang kerjanya, (24/10/2018).

Dari pemanfaatan Dana Desa, pemerintah juga mendapat pengembalian dari bisnis yang dikembangkan. Pengembalian itu berupa pajak penghasilan, penataan daerah wisata yang menambah pendapatan asli daerah, dan pemasukan dari devisa.

"Jadi Dana Desa itu hanya pemicu untuk desa-desa berkembang. Ada juga desa yang dapat mengekspor hasil kerajinan tangan, seperti kain tenun dari Nusa Tenggara Timur. Kain tenunnya menjadi komoditi ekspor yang bernilai," lanjut Bonny.

Bonny mengakui banyak desa yang telah menyumbangkan pendapatan tahunan hingga miliaran rupiah melalui pemberdayaan BUMDes. Berikut daftar sepuluh desa itu yang menyumbang pendapatan tahunan terbesar, yaitu:

1. Desa: Ponggok
   Kabupaten: Klaten, Jawa Tengah
   Bisnis yang dikembangkan: kolam renang dan wisata
   Pendapatan tahunan: Rp10,3 miliar

2. Desa: Tirtinirmolo
   Kabupaten: Bantul, DIY
   Bisnis yang dikembangkan: simpan pinjam
   Pendapatan tahunan: Rp8,7 miliar

3. Desa: Tajun
   Kabupaten: Buleleng, Bali
   Bisnis yang dikembangkan: wisata
   Pendapatan tahunan: Rp5,18 miliar

4. Desa: Karang Kandri
   Kabupaten: Cilacap, Jateng
   Bisnis yang dikembangkan: pembangkit listrik tenaga uap
   Pendapatan tahunan: Rp3 miliar

5. Desa: Kampar
   Kabupaten: Rokan Hulu, Riau
   Bisnis yang dikembangkan: pertanian dan simpan pinjam
   Pendapatan tahunan: Rp3 miliar

6. Desa: Bleberan
   Kabupaten: Gunungkidul, DIY
   Bisnis yang dikembangkan: wisata
   Pendapatan tahunan: Rp2 miliar

7. Desa: Landih
   Kabupaten: Bangli, Jawa Timur
   Bisnis yang dikembangkan: pertanian
   Pendapatan tahunan: Rp1,6 miliar

8. Desa: Pakisan
   Kabupaten: Buleleng, Bali
   Bisnis yang dikembangkan: wisata
   Pendapatan tahunan: Rp1,4 miliar

9. Desa: Kedungprimpen
   Kabupaten: Bojonegoro, Jatim
   Bisnis yang dikembangkan: sewa pompa dan tenda
   Pendapatan tahunan: Rp1,3 miliar

10. Desa: Tunjung
   Kabupaten: Buleleng, Bali
   Bisnis yang dikembangkan: wisata
   Pendapatan tahunan: Rp1,3 miliar.

Selain daripada hal yang tersebut diatas banyak desa-desa lain yang sukses membangun menggunakan Dana Desa dengan baik dan tepat sasaran sehingga manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat desanya, beberapa desa-desa yang sukses membangun menggunakan dana desa diantaranya,

foto Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo (web)

1. Desa Majasari Sukses Kelola Dana Desa

Indramayu Jawa Barat
Di tengah kisah miris tentang korupsi dana desa, ternyata ada desa yang telah secara profesional mengelolah dana desa tersebut sehingga bermanfaat untuk masyarakat. Desa itu adalah Desa Majasari, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang mampu mengelola dana desa secara optimal dan peruntukan yang tepat bagi kesejahteraan masyarakat desa.

Tahun ini Desa Majasari menerima dana desa sebesar Rp809.407, jumlah ini lebih besar dari tahun sebelumnya sebesar Rp620 juta.

Salah satu program yang tengah dijalankan yaitu pembangunan infrastruktur jalan desa dengan cara betonisasi sehingga jalan desa tersebut kini menjadi kuat dan mulus.

Dana desa juga dipakai untuk membangun balai desa dengan konstruksi bangunan dua lantai. Selain itu, Desa Majasari memiliki 250 ekor sapi hidup yang diternakkan dalam kandang sapi komunal dan dikelola oleh pihak desa. Peternakan sapi tersebut mampu membantu perekonomian masyarakatnya dan membuka lapangan pekerjaan bagi warga yang menganggur.

Desa Majasari berhasil meraih predikat Desa Terbaik tingkat Regional Nasional 2016 dan menerima penghargaan dari Presiden Republik Indonesia melalui Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo.

2. Desa Kota Bani Sukses Menurunkan Angka Kemiskinan Warganya
Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu
Berbagai prestasi telah ditorehkan oleh Desa Kota Bani, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Salah satu paling membanggakan adalah keberhasilan desa ini menduduki peringkat ke-6 dari 100 desa di seluruh Indonesia dalam Indeks Desa Membangun (IDM).

IDM sendiri merupakan daftar yang dirilis oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi ( Kemendes PDTT) untuk memperkuat upaya pencapaian sasaran pembangunan desa dan kawasan perdesaan.

Adapun beberapa indikator penilaian yang menjadi dasar sebuah desa masuk ke dalam indeks ini adalah indikator dimensi ekonomi, sosial, dan ekologi.

Melalui indikator penilaian tersebut, Desa Kota Bani berhasil mendapatkan skor 0,937 dan masuk ke dalam kategori Desa Mandiri.

Dengan skor tersebut, selain menduduki peringkat keenam terbaik se-Indonesia, Desa Kota Bani juga berhasil memegang predikat desa terbaik di Provinsi Bengkulu.

Kepala Desa Kota Bani Zaidin mengatakan, salah satu faktor yang menjadi kunci keberhasilannya adalah kesuksesan program pengentasan angka kemiskinan warga desa.

"Dari tahun ke tahun sejak 2015 angka kemiskinan di Desa Kota Bani selalu mengalami penurunan," kata Zaidin di Kantor Kepala Desa Kota Bani, Bengkulu Utara, Senin (8/10/2018).

Tercatat pada 2015 lalu warga prasejahtera di desa ini mencapai 120 kepala keluarga. Selanjutnya, berturut-turut angka itu berkurang menjadi 105 kepala keluarga pada 2016, 81 kepala keluarga pada 2017, dan terakhir menjadi hanya 63 kepala keluarga pada 2018.

Terpenuhinya pelayanan dasar

Salah satu faktor penting dalam keberhasilan Desa Kota Bani menurunkan angka kemiskinan adalah terpenuhinya pelayanan dasar warga desa. Tiga bentuk pelayanan dasar publik di desa itu meliputi barang publik, jasa publik, dan layanan administratif.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kota Bani Zainuri mengatakan ketiga hal tersebut harus didasarkan pada prinsip terbuka, dapat dipertanggungjawabkan, dan melibatkan masyarakat.

Salah satu tugas kami sebagai perangkat desa adalah menggali dan menyampaikan aspirasi masyarakat. Hal ini karena semua program yang akan kita buat haruslah bermanfaat bagi warga desa," ujarnya.

Salah satu jenis program yang cukup signifikan dalam membantu perekonomian warga desa adalah perbaikan jalan produksi pertanian.

Dahulu, sebelum jalan desa diperbaiki, para petani harus membayar biaya angkut Rp 100 ribu per ton. Namun, sejak jalan desa selesai dibangun, tak ada lagi biaya angkut atau langsir sehingga tidak mengurangi keuntungan panen.

Pemanfaatan dana desa

Selain itu, pemanfaatan dana desa dari tahun ke tahun juga turut berperan dalam mengentaskan kemiskinan di Desa Kota Bani. Desa ini sudah mendapatkan aliran dana desa dari pemerintah pusat sejak 2015.

Pada tahun pertama desa ini mendapatkan kucuran dana Rp 291,9 juta. Dana tersebut digunakan oleh untuk membangun gorong-gorong sebagai aliran air sanitasi dan membangun jalan rabat beton.

Kemudian, pada 2016, desa ini mendapatkan dana sebanyak Rp 639,2 juta. Dana itu dipakai untuk memelihara sarana dan prasarana desa.

Pada 2017 desa ini juga mendapatkan bantuan dana desa sebesar Rp 814 juta. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan balai desa, pos keamanan dan lingkungan, pemeliharaan PAUD, pemberdayaan masyarakat dengan penyediaan alat tangkap bagi nelayan, serta membangun jalan rabat beton.

Tahun ini Desa Kota Bani kembali mendapatkan dana desa dengan nominal Rp 684,6 juta. Dana tersebut juga dimanfaatkan untuk membangun pelapis tebing, pembangunan saluran pemukiman (50 persen), pembangunan jalan menuju tempat pelelangan ikan (TPI), pembangunan tribun kecil di depan balai desa, dan pembangunan Tugu Gajah.

"Dalam berbagai pembangunan tersebut kami selalu mengikutsertakan masyarakat desa, baik melalui musyawarah desa atau proses pembangunannya. Kami berharap program-program ini bisa memberikan dampak positif secara langsung terhadap penurunan angka kemiskinan," pungkas Zaidin.


3. Desa Loa Duri Ilir jadi Desa Terbaik Setelah Sukses Kelola Dana Desa
Kabupaten Kutai Kartanegara Kaltim
Desa Loa Duri Ilir, Kabupaten Kutai Kartanegara, Fakhri Arsyad menggerakan masyarakat mengelola ban bekas agar terhindar dari penyakit. Selain itu Fakhri berhasil mensejahterakan warganya melalui dana desa dengan memberi pendidikan usaha.

Sejak kepala desa Loa duri ilir, Fakhri Arsyad memimpin desa tersebut. Ia pun secara bertahap mampu merubah desanya sebagai desa inovatif.

Bank Sampah
Misalnya saja soal sampah. Menurut seorang warga, Marten Odo, sebelumnya di tempat pembuangan sampah desa, menumpuk sampah yang dibuang oleh warga desa. Kemudian Fakhri Arsyad bersama warga desa mulai menata tempat pembuangan sampah desa itu menjadi tempat bercocok tanam.

Sebelum Fakhri Arsyad menjadi kepala desa, setiap tahunnya banyak warga desa Loa duri ilir yang menginggal akibat berbagai wabah penyakit seperti demam berdarah, diare dan malaria. Kemudian Fakhri Arsyad mencoba mencari tahu penyebabnya, ternya sampah yang menjadi biang keladinya.

Di desa ini banyak sekali sampah ban mobil bekas yang berserakan di sekitar rumah warga. Ia lalu mencari tahu bagaimana mengelola sampah ban mobil bekas ini agar bermanfaat, dan sekaligus membasmi sarang dari berbagai jenis penyakit tersebut. ia pun mendapatkan ide untuk mengolah ban bekas tersebut sebagai pot bunga yang kemudian dijual kembali ke berbagai instansi dan perusahaan.

“Kita beli dari masyarakat, kalau ban mobil yang kecil seharga Rp 5.000, dan yang besar seharga Rp 7.000. Masyarakat pun tergerak untuk menjual ban bekasnya sehingga tidak ada lagi ban bekas yang berserakan,” terang Kades Fakhri Arsyad.

Berbagai Pemberdayaan Masyarakat
Selain mengubah sampah ban mobil bekas, Fakhri Arsyad pun berpikir untuk memberdayakan masyarakat desanya. Ia membuat skala prioritas, mengedepankan peningkatan perekonomian warga desanya.

Ia dan warga desa Loa duri ilir kemudian membuat berbagai aktivitas, seperti mengelola limbah kotoran ayam menjadi pupuk organik, memberdayakan kaum perempuannya untuk membuat aneka kue, seperti brownies dan ampyang ikan patin. Tak hanya itu ia pun memberdayakan warga desanya dengan membuat keramba-keramba ikan untuk menurunkan angka pengangguran, serta kegiatan menyablon kaos bagi anak-anak mudanya.

Kini desa Loa duri ilir telah berhasil berhasil bangkit dari desa tertinggal menjadi desa mandiri. Berhasil merubah perilaku warganya untuk menjaga kebersihan lingkungannya, dan berbagai pencapaian lainnya, sehingga membuat sang Kepala Desa, Fakhri Arsyad diundang sebagai tamu inspiratif dalam sebuah acara bincang-bincang di sebuah stasiun televisi nasional (31/08/18).


4. Kampung Muara Benangaq Berprestasi Kelola Dana Desa, Raih Penghargaan Pemprov Kaltim
Kampung Muara Benangaq di Kecamatan Melak, Kabupaten Kutai Barat, meraih penghargaan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (9/10/2018). Penghargaan bagi 12 desa itu diberikan kepada desa atau kampung yang dinilai berprestasi. Khususnya dalam pembangunan desa, penggunaan dana desa, inovatif, dan terbaik dalam pelayanan informasi publik.

Penghargaan diserahkan Gubernur Kaltim, Isran Noor, melalui Asisten III Sekretariat Provinsi Kaltim, H Sabani. Dan juga oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberdayaan Desa Provinsi Kaltim, M Jauhar Effendi. Penghargaan itu dibagi dalam empat kategori.

Pertama adalah kategori Penguatan Pembangunan Dan Pemberdayaan Masyarakat yang menempatkan Kampung Maluang di Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau sebagai Juara 1. Posisi Juara 2 adalah Desa Paser Belengkong di Kecamatan Paser Belengkong, Kabupaten Paser, dan Kampung Muara Benangaq meraih Juara 3.

“Kita berharap ini menjadi salah satu motivasi bagi 190 Kepala Kampung atau Petinggi di 16 kecamatan se-Kubar. Sehingga pembangunan di kampung-kampung makin baik, dan sejalan dengan visi-misi yang dicanangkan Bapak Bupati Kutai Barat, FX Yapan,” ungkap Kepala Bidang Pemerintahan Kampung dan Kelurahan pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung Kubar,(10/10/2018).

“Saya dan warga Muara Benangaq bersyukur dengan penghargaan ini. Jadi kerja keras kami bisa juga mendapat penghargaan seperti ini. Kami tidak menduga ini terjadi,” ujar Petinggi Muara Benangaq, Ismawi, yang menerima penghargaan bagi desanya dalam Rapar Kordinasi II Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Kaltim.

Kategori kedua, adalah Pelaksanaan Prioritas Penggunaan Dana Desa. juara 1
adalah Desa Kerta Bhakti di Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser. Juara 2 diraih Desa Sungai Bawang di Kecamatan Muara Badak,
Kabupaten Kutai Kartanegara. Dan Juara 3 menjadi milik Desa Gunung Makmur di Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara.

Dalam kategori ketiga, yakni Desa Prakarsa Dan Inovatif Desa Loa Duri Ilir di Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara menempati posisi Terbaik. Kemudian Desa Tajur di Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser menjadi Juara 2. Dan Juara 3 untuk Kampung Batu Putih di Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Berau.

Kategori terakhir adalah Pelayanan Informasi Dan Pelayanan Publik. Pada kategori ini, Desa Bhuana Jaya di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara meraih predikat Juara 1. Juara 2 diberikan kepada Desa Sidorejo di Kecamatan Penajam, Kabupaten PPU. Juara 3 diraih Desa Batu Kajang di Kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser.

Dikatakan Jauhar Effendi, tujuan penghargaan ini untuk memacu desa lain yang belum menerima penghargaan agar berbuat lebih baik, dan mengejar ketertinggalannya. “Kepada mereka yang mendapat penghargaan, diharap bisa mempertahankan predikat juaranya. Dan jika bisa meningkatkan prestasi tersebut,” katanya.


5. Desa Cupunagara,Alokasi Dana Desa Berhasil Mengubah Nasib Desanya
Kecamatan Cisalak Subang Jawa Barat
Pemerintah Indonesia menggelontorkan Dana Desa pada desa-desa terpencil, termasuk Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang. Desa Cupunagara terletak diantara gunung lingkung. Gunung lingkung terdiri dari kaki Gunung Canggah, Kaki Gunung Gede, dan Bukit Tunggul.

Tak heran jika di desa ini sulit menemukan koneksi jaringan. Sebelum adanya program dana desa dari pemerintah, Desa Cupunagara ini sempat terisolasi, karena infrastruktur jalan yang tak mungkin dilalui oleh kendaraan.

Desa ini merasakan dampak dari adanya dana desa. Dana desa yang didapat pada tahun 2015 berkisar Rp 300 juta, Dana desa tersebut meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2016 meningkat menjadi Rp 700 juta, 2017 menjadi Rp 930 juta, dan 2018 mendapat Rp 1,13 Milyar.

Sejak adanya dana desa tersebut, pembangunan infrastruktur yang difokuskan adalah infrastruktur jalan, agar akses menuju Desa Cupunagara menjadi mudah. Hal tersebut dikatakan oleh Kepala Desa Cupunagara, Wahidin Hidayat, saat ditemui oleh Tim Media, di Desa Cupunagara, (19/9/2018).

BUMDes bangun usaha Kopi Canggah untuk meningkatkan kualitas ekonomi petani kopi serta masyarakat. Infrastruktur Desa Cupunagara ini sebelumnya jalan desa ini belum beraspal, dan masih dalam bentuk tanah dengan bebatuan. Sehingga penggunaan dana desa digunakan untuk pembangunan infrastruktur jalan.

Tahun 2015 hingga 2018 sepanjang 15km jalan yang sudah diaspal dari total panjang jalan desa 35km Sehingga masih 20km yang harus di aspal. Perubahan yang dirasakan sangat signifkan terhadap perekonomian warga. Karena mayoritas warga merupakan petani sayuran, ongkos angkut distribusi sayuran pun menurun.

"Ongkos angkut per kilonya dari Rp 1000 perkilo, sekarang Rp 500 per kilo. Hal tersebut menjadi suatu keuntungan bagi petani karena tarif distribusi sayuran turun 50%," ujar Wahidin Hidayat, di Desa Cupunagara,

Begitupun dengan masyarakat Desa Cupumagara juga ikut merasakan dampak dari pembangunan jalan tersebut.

Seorang warga Desa Cupunagara, Jajang Saripudin (42), mengatakan semenjak adanya perbaikan jalan, ia merasakan kemudahan untuk pendistribusian hasil tani. Jajang bekerja sebagai petani sayuran dan kopi.

"Sejak ada dana desa, pembangunan infrastruktur lebih berkesinambungan, seperti jalan tadinya berbatu tanah, apalagi musim hujan banyak kecelakaan. Walaupun belum sebagian besar, tapi ini sangat membantu terutama ongkos," ujar Jajang Saripudin.

Tak hanya infrastruktur saja, dana desa yang digunakan Desa Cupunagara meliputi pengadaan dan pemeliharaan fasilitas kesehatan, pembentukan BUMDes, serta pembangunan saluran air atau drainase.

Pada pembangunan serta pemeliharaan bidang kesehatan, dua wilayah sudah melaksanakan revitalisasi Posyandu. Rencananya, setelah pemeliharaan dan pembangunan Posyandu, akan ada ambulans desa, untuk mengangkut pasien kegawat daruratan.
Hal yang paling menonjol pada pemanfaatan dana desa ini, adalah pendirian BUMDes (Badan Usaha Milik Desa).

"Perlu waktu dua tahun untuk pendirian BUMDes, karena kami mendiskusikan terlebih dahulu apa yang akan diusahakan, analisa usahanya bagaimana, serta potensi desanya apa," ujar Wahidin Hidayat.

Meski memerlukan waktu yang lama untuk pendirian BUMDes, namun pendirian BUMDes belum setaun ini sudah berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat, terutama petani kopi. Berdirinya BUMDes Mukti Raharja sekira bulan November 2017 lalu.

Kepala BUMDes Mukti Raharja, Risma Wahyuni Hidayat (23), mengaku sebelum BUMDes mendapatkan kucuran dana, harus membuat proposal usaha, semisal bisnis yang nantinya diajukan ke desa.

Perincian tersebut meliputi keperluan dua unit usaha, yakni mengelola biji kopi serta pengolahan air bersih. Sehingga, BUMDes mendapatkan kucuran dana dari dana desa sebesar 50 Juta untuk dua unit usaha tersebut.

Meski memerlukan waktu yang lama untuk pendirian BUMDes, namun pendirian BUMDes belum setaun ini sudah berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat, terutama petani kopi. Berdirinya BUMDes Mukti Raharja sekira bulan November 2017 lalu.

Kepala BUMDes Mukti Raharja, Risma Wahyuni Hidayat (23), mengaku sebelum BUMDes mendapatkan kucuran dana, harus membuat proposal usaha, semisal bisnis yang nantinya diajukan ke desa.

Perincian tersebut meliputi keperluan dua unit usaha, yakni mengelola biji kopi serta pengolahan air bersih. Sehingga, BUMDes mendapatkan kucuran dana dari dana desa sebesar 50 Juta untuk dua unit usaha tersebut.
Namun setelah adanya BUMDes, biji kopi dijual ke BUMDes dengan harga kisaran Rp 7000 hingga Rp 9000. BUMDes juga memberikan edukasi dan penyuluhan cara pengolahan kopi pada petani kopi bersama Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Subang.

Biji kopi yang ditampung di BUMDes kemudian diolah menjadi kopi dalam kemasan, memiliki brand Kopi Canggah khas Desa Cupunagara. Kopi Canggah ini dijual ke kafe-kafe yang ada di Kota Subang, Bandung, Purwakarta, dan sekitarnya, dengan harga Rp 90.000 per kilogram dalam bentuk green bean

Pemilik Coffee Shop Blackhood di Subang, Angga Maulana (23), mengaku selalu membeli Kopi Canggah untuk kebutuhan di kedainya. Perbulannya Angga dapat membeli 25 kilogram dalam bentuk green bean, serta 15 kilogram dalam bentuk roast bean. Angga mengaku kedai kopinya ramai memesan Kopi Canggah. Hal tersebut dikarenakan Kopi Canggah memiliki keunikan.

"Rasa Kopi Canggah ini berbeda dengan kopi yang ada di Jawa Barat yang rasanya lebih ke fruity, bisa dibandingin dengan eropa, dan tingkat keasamannya tinggi. Tapi Kopi Canggah ini dominan manis, sehingga memiliki keunikannya sendiri," ujar Angga pada Media.

Selain itu, Mbah Tjutju mengaku semenjak adanya BUMDes, tidak susah untuk mengangkut, serta tidak susah cari pasar penjualan, karena BUMDes lah yang melakukan hal tersebut.


"Kami kan awam di permasaran, tidak punya tenaga marketing, mungkin sudah tua juga, jadi tidak punya tenaga pemasaran. Kalau tadinya kami yang cari, kemana harus menjual, sekarang kan agak susah. Terus sekarang dibantu sama BUMDes pemasarannya, ya disitu fungsinya sangat berarti bagi saya," ujar Tjutju pada Media.

Kepala BUMDes Mukti Raharja, Risma Wahyuni Hidayat, mengaku semenjak adanya BUMDes, masyarakat mulai membuka usaha penanaman biji kopi. Awalnya mereka bekerja serabutan, kini mereka menjadi petani hingga pengolahan biji kopi.

"Sejak adanya BUMDes ini, masyarakat mulai melek soal bisnis, dan usaha, karena sebelumnya mereka bekerja serabutan. Kami juga terus mengajak masyarakat buat terlibat dalam proses pengemasan kopi, sehingga BUMDes ini menjadi ajang lapangan kerja buat masyarakat, dengan upah kisaran Rp 300.000 per minggu," ujar Risma.

Tak hanya itu, keuntungan BUMDes selain menambah lapangan kerja, dapat menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah) sekitar 5% untuk dana sosial. Adapun produksi air isi ulang di BUMDes Mukti Raharja. Sebelumnya masyarakat Desa Cupunagara membeli air layak minum di pasar dengan harga Rp 15.000 hingga Rp 20.000, sedangkan air galon aseli Rp 25.000.

Kini, BUMDes mengelola air layak minum berupa air isi ulang galon, dan mempekerjakan masyarakat sekitar, dengan upah Rp 500.000 perbulannya. Dengan adanya air isi ulang ini, masyarakat Desa Cupunagara dapat membeli air layak minum terdekat dengan harga Rp 7.000 per galonnya.

"Sebelum adanya BUMDes, tidak semua tersuply air yang layak minum. Kini setelah ada BUMDes, kami dapat mengkonsumsi air minum yang murah dan rasanya hampir sama dengan yang asli. Harganya hanya Rp 7.000 per galon, diantar sampai rumah dari BUMDesnya," ujar Jajang Saripudin.

Rencana kedepannya, Risma Wahyuni Hidayat (23), Kepala BUMDes Mukti Raharja, akan mengembangkan unit usaha packing house atau pengemasan hasil kebun. Nantinya agar dapat dijual di end user seperto supermarket, swalayan, hingga restoran. Hal tersebut karena Desa Cupunagara penghasil sayuran tomat, selada, buncis, cabe, timun, terong jepang, kol, kentang hingga ubi.

Selain itu, melalui dana desa pula, Kepala Desa membangun drainase dan saluran lingkungan untuk menunjang kualitas hidup yang sehat. Dengan adanya saluran drainase ini, pembuangan air bisa diarahkan ke drainase. Adapun pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) di beberapa wilayah yang rawan longsor.

Desa Cupunagara juga memiliki potensi wisata untuk dikembangkan, yaitu Puncak Eurad. Saat ini Puncak Eurad dikelola dan dikembangkan secaea gotong royong oleh masyarakat Desa Cupunagara dan Desa Wangun Harja.

Karena letaknya berada di perbatasan antara Desa Cupunagara Kecamatan Subang dan Desa Wangun Harja Kecamatan Lembang, pengelolaannya pun dilakukan oleh masyarakat kedua desa tersebut. Kepala Desa mengaku dengan adanya dana desa ini dampaknya begitu besar terhadap pembangunan desa.

"Luar biasa, setelah adanya program dana desa, atau Nawacita Pak Jokowi membangun dari pinggiran dengan mengiplementasikam Dana Desa, ini luar biasa dampaknya terhadap pembangunan di Desa Cupunagara, jadi jalan yang tadinya belum teraspal menjadi diaspal. Itu sangat dirasakan oleh masyarakat," ujar Wahidin Hidayat.

Tak hanya itu saja, Wahidin Hidayat juga bersyukur karena tadinya produksi kebun tidak bisa dilalui sepeda motor.

Dengan adanya dana desa, dapat membuka jalur jalan alternatif produksi tani. Peningkatan kapasitas masyarakat juga didorong oleh ilmu tentang kopi, serta pelatihan-pelatihan, dan studi banding tentang kopi juga.Selain itu dengan adanya dana desa, Desa Cupunagara dapat membangun saluran drainase


6. Desa Sidorejo Sukses Pengelolaan Dana Desa
Kecamatan Keluang Musi Banyuasin Sumatera Selatan
Dana Desa yang dikucurkan oleh pemerintah pusat, sukses dikelola Pemerintah Desa Sidorejo, Kecamatan Keluang, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel), melalui pengucuran modal Badan Usaha Milik Daerah (BUMDes).

BUMDes Sumber Rejo yang dikelola warga Desa Sidorejo, membuat Bumdesmart yang baru dimulai bulan November 2017, sudah mengantongi omset hingga ratusan juta tiap bulan. Bumdesmart turut meningkatkan ekonomi kreatif para warga sekitar dan menekan angka pengangguran di Desa Sidorejo.

Menurut Imron, Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Ekonom Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Banyuasin, melalui permodalan dana desa, Bumdesmart berkembang secara pesat dalam waktu yang singkat.

"Kurang dari satu tahun, omset Bumdesmart alhamdulillah di tahun ini sudah mencapai Rp 200 Juta per bulan," kata Imron kepada media,(6/8/ 2018).

Beragam kebutuhan warga sekitar disediakan di Bumdesmart, sehingga warga tidak perlu lagi ke kota di Musi Banyuasin. Usaha ini juga mendukung kelompok usaha perempuan untuk meningkatkan perekonomian keluarga.

30 persen dari keseluruhan produk yang dijual di Bumdesmart, merupakan produk olahan warga sekitar. Tentu ini menuai apresiasi karena membantu promosi dan pemasaran produk lokal.

"Bumdesmart memang dibentuk dari dan untuk masyarakat desa, salah satunya lapangan pekerjaan bagi warga lokal," kata Imron.

Lokasi Bumdesmart dipilih yang paling strategis di antara beberapa desa. Efeknya, peningkatan transaksi cukup tinggi. Bahkan, minimarket modern ini juga kian diminati para anak muda di sekitar, dengan adanya fasilitas Wifi gratis.

Bumdesmart ini diproyeksikan menjadi toko grosir. Tujuannya jelas, untuk memenuhi kebutuhan warung-warung di sekitar Desa Sidorejo. Anggaran bantuan modal dana desa untuk pemerintah daerah, sudah dianggarkan di tahun 2018 untuk merealisasikan program ini.

"Dengan harga grosir, pengelola warung kecil bisa mengambil barang ke Bumdesmart, dengan harga terjangkau dan hemat uang transportasi," katanya.

Para pengelola warung di desa biasanya membeli barang jualannya di pusat Kabupaten Musi Banyuasin. Jarak Desa Sukorejo ke pusat Kota Musi Banyuasin memakan waktu satu jam. Tentu terjadi inefisiensi waktu, tenaga dan uang.


7. Desa Laha, Pengelolaan Dana Desa Terbaik
Ambon Maluku.
Penyaluran dana desa melalui program Padat Karya Tunai (PKT) berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Beragam sarana dan prasarana desa pun berhasil dibangun dengan partisipasi warga setempat.

Salah satu desa yang dapat menjalankan program PKT dengan baik adalah Desa Laha, di Kota Ambon, Maluku. Pada 2016, misalnya, dana desa digunakan untuk membangun tambatan perahu nelayan dan pemandian umum.

Tambatan perahu nelayan dibangun di RT 001 RW01, dengan biaya lebih dari Rp 407 juta. Sementara pemandian umum dibangun di RT 002 RW 01, yang menelan biaya dana desa sebesar Rp 150 juta.

Sementara pada 2017, ada sejumlah proyek yang berjalan, yakni jalan lingkungan dengan volume 11,616 meter persegi, saluran drainase (5,284), talud (607), sarana olahraga (empat buah), posyandu (tiga buah), jamban (delapan), PAUD (tiga), jembatan (tiga), dan penyediaan air bersih (2,161 meter persegi).

Pada 2016, Kota Ambon mendapat alokasi dana desa sebesar Rp 17,659 miliar lebih dan pada 2017 sebesar Rp 17,090 miliar lebih.


8. Desa Pongok, Kisah Sukses Kepala Desa Junaedhi Kelola Dana Desa
Kabupaten Klaten Jawa Tengah
Program Dana Desa yang digulirkan sejak 2015 telah memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan layanan publik di desa. Salah satu desa yang berhasil memanfaatkan Dana Desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat adalah Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten Jawa Tengah.

Kepala Desa Ponggok Junaedhi Mulyono mengatakan, dengan bantuan program Dana Desa yang digulirkan pemerintah dan pengelolaan yang modern dengan sistem korporasi melalui BUMDes, Desa Ponggok berhasil mengembangkan perekonomian desa melalui pemanfaatan sumber daya alam yang ada.

“Mata air yang ada dulu disewakan 2 juta per tahun saja tidak laku, tapi sekarang bisa menghasilkan 700 juta sebulan,” katanya saat berbicara dalam diskusi publik bertajuk “Dana Desa: APBN Pro Rakyat atau Pro Elite?” di Demang Cafe, Jakarta, (3/8/2018).

Junedhi menambahkan dengan pengembangan BUMDes pula, Desa Ponggok bisa membiayai berbagai kebutuhan masyarakat mulai dari kesehatan hingga beasiswa bagi para pelajar dan mahasiswa. Keberhasilan Desa Ponggok tidak terlepas dari visi yang dibangun seluruh masyarakat desa bersama perangkat desa. Mereka membangun perencanaan bersama mulai dari tata ruang, BUMDes, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), dan pemanfaatan teknologi informasi untuk menunjang produktifitas masyarakat desa.

“Jika semua desa bisa mencontoh apa yang kami lakukan, maka ke depan Indonesia akan memiliki daya saing dan maju,” katanya.

Sementara Dirjen Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Boediarso Teguh Widodo, mengatakan Dana Desa memiliki peran strategis dalam memajukan masyarakat desa.

“Dana Desa bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan publik di desa. Itu menjadi tekad pemerintah dari tahun ke tahun. Tapi dia hanya akan efektif kalau pemanfaatannya juga baik,” ungkap Boediarso

Boediarso menambahkan, dari tahun ke tahun, anggaran program yang merupakan amanat dari UU Nomor
6 Tahun 2014 tentang Desa terus meningkat. Pada APBN tahun 2015 jumlahnya sebesar Rp 20,76 triliun, di 2016 menjadi Rp 46,98 triliun, dan pada 2017 menjadi Rp 60 triliun.
Setelah hampir tiga tahun berjalan, pemerintah akan melakukan evaluasi agar ke depan pemanfaatan Dana Desa semakin baik.

Salah satu upaya tersebut adalah melalui reformulasi dari Dana Desa di tahun 2018 dengan fokus pada pengentasan kemeiskinan dan ketertinggalan secara geografis

"Tujuan pengubahan formula ini untuk mempercepat pengentasan kemiskinan dan kedua memberikan afirmasi kepada desa tertinggal dan sangat tertinggal terutama di daerah tertinggal, kepulauan, dan perbatasan,” pungkasnya

9. Desa-desa Di Provinsi Sumatra Utara yang Sukses Manfaatkan Dana Desa berdasarkan Penilaian PemProv.
Bupati Pakpak Bharat Provinsi Sumatra Utara, Dr. Remigo Yolando Berutu mengisi acara Bedah Buku `Kisah Sukses Dana Desa: Lilin-lilin Cahaya di Ufuk Fajar Nusantara', (24/05/2018) di Aula Simarjarunjung, Kanwil Ditjen Perbendaharaan Negara, Jalan Diponegoro, Medan.

Dalam acara yang dimoderatori Monika R. Sitompul, Kabid Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II Kanwil Ditjen Perbendaharaan Pemprov Sumut dan dipanel oleh Wahyu Ario Pratomo, Ekonom Kemenkeu RI Wilayah Sumut, juga dilakukan sedikit pemaparan oleh beberapa Kepala PMD Pemerintah Kabupaten di Sumatera Utara yang desa-desanya masuk dalam penulisan buku tersebut karena memiliki keberhasilan dalam pengelolaan dana desa.

Adapun desa-desa yang dicantumkan karena dianggap memiliki keberhasilan dalam pengelolaan dana desa di Sumatera Utara, antara lain Desa Sifaoroasi (Nias), Desa Simbou Baru (Simalungun), Desa Kampung Padang (Lab. Batu), Desa Rawang Pasar V (Asahan), Desa Kuta Pinang (Sergai), Desa Perduhapen (Pakpak Bharat), Desa Lumban Gaol (Tobasa), Desa Huraba (Tapsel), Desa Karang Gading (Langkat), dan Desa Jago-jago (Tapteng).

Senada dengan Bupati, Wahy Ario Pratomo juga mengamini pentingnya inovasi dalam pengelolaan Dana Desa, dan beliau memaparkan bahwa inovasi bisa berasal dari mereplikasi yang bisa saja diinspirasi dari Buku ini. Buku ini menjadi implementasi kepedulian untuk pengembangan Desa-desa di Indonesia ke depannya. ( sumber web )

DESA-DESA YANG SUKSES MEMBANGUN SETELAH MENDAPATKAN DANA DESA DARI PEMERINTAH

foto web


( SUARA RAKYAT MERDEKA.COM )--
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal,dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo, menyebut dengan adanya dana desa yang diberikan oleh pemerintah pusat, diharapkan seluruh desa yang tersebar di seluruh Indonesia dapat berkembang, mandiri, dan sejahtera.

"Formulasinya gimana, jadi dari total dana desa yang telah dialokasikan tersebut, sebesar 80% dibagi rata dan 20% itu dialokasikan sebagai dana tambahan atau afirmasi kepada desa yang miskin, tertinggal, dan terluar. Sehingga desa miskin dapat mengejar ketertinggalannya," katanya dalam keterangan tertulis pada Seminar bertema 'Komunikasi Pembangunan untuk Pengembangan Potensi Daerah' di Bengkulu, (30/10/2018).

Lebih lanjut, Eko menyampaikan bahwa dana desa hingga saat ini telah mampu menunjukkan hasil terbaiknya dengan telah terbangunnya sarana dan prasarana penunjang aktivitas ekonomi masyarakat, seperti terbangunnya 1.028.225 meter jembatan, dan jalan desa 158.619 kilo meter.

Kemudian fasilitas seperti pasar desa sebanyak 7.421 unit, kegiatan BUMDes sebanyak 35.145 unit, embung desa sebanyak 3.026 unit, sarana irigasi sebanyak 39.656 unit serta sarana-prasarana penunjang lainnya.

"Bukan itu saja, dengan dana desa juga mampu tersedianya sarana prasarana penunjang kualitas hidup masyarakat desa melalui pembangunan 942.927 unit sarana air bersih, 178.034 unit MCK, 8.028 unit Polindes, 48.694 unit PAUD, 18.477 unit Posyandu, serta drainase 39.920.120 unit maupun sumur bor sebanyak 37.662 unit," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Eko juga menyampaikan terkait program inovasi desa dan program prukades. Untuk program inovasi desa, Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo menilai bahwa Program Inovasi Desa (PID) telah menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan angka kemiskinan di desa-desa yang cukup signifikan.

Saat ini telah terdapat sebanyak 30.000 inovasi desa yang telah dikumpulkan dalam bentuk dokumen tertulis maupun bentuk video yang telah dishare agar bisa ditiru oleh desa-desa lainnya supaya desa-desa akan menjadi lebih berkembang dan maju.

"Kita telah bekerja sama dengan bank dunia dengan membuat program inovasi desa. Program ini untuk membuat inkubasi untuk merangsang masyarakat desa supaya berinovasi. kita lakukan serentak, kita berikan pelatihan. Dengan program ini cepat membuat desa maju dan berkembang karena kita dokumentasikan agar bisa ditiru oleh desa lainnya," katanya.

Sementara itu, tambah Eko, terkait dengan program Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) itu juga menjadi faktor meningkatnya pertumbuhan desa. Dengan program Prukades ini, dia meminta kepada setiap daerah untuk menentukan tiga produk unggulannya yang selanjutnya ketiga produk unggulan ini akan dihubungkan ke kementerian terkait, dunia usaha dan perbankan untuk membantu mengembangkan prukades.

"Dengan model prukades ini, sejumlah Kementerian terkait turut memberikan dukungan bagi para pengusaha maupun perbankan agar menjadi lebih mudah untuk masuk ke desa. Sehingga, pertumbuhan ekonomi di desa akan terus meningkat," paparnya.

Oleh karena itu, dengan sejumlah program yang ada di pemerintahan pusat melalui sejumlah kementerian diperlukan suatu komunikasi yang intens dari pemerintah daerah kepada pemerintah pusat agar sejumlah program yang ada untuk diberikan kepada daerah bisa berjalan dan dilaksanakan dengan baik.

Tentang Kemendes PDTT
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi adalah kementerian yang mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pembangunan desa dan kawasan perdesaan, pemberdayaan masyarakat desa, percepatan pembangunan daerah tertinggal, dan transmigasi untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.

Kemendes PDTT memiliki 4 program prioritas untuk percepatan pembangunan desa, yaitu Prukades (Produk Unggulan Kawasan Pedesaan), membangun Embung Desa, mengembangkan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa), membangun Raga Desa (Sarana Olahraga Desa). Untuk percepatan pembangunan desa, Kemendes PDTT juga memiliki program bernama Inovasi Desa.

Sepuluh Desa Dianggap Paling Sukses Manfaatkan Dana Desa
Pemanfaatan Dana Desa tak sekadar membangun infrastruktur, tapi juga meningkatkan perekonomian warga. Sepuluh desa pun disebut-sebut sukses memberdayakan dana yang dikucurkan dari pemerintah pusat itu untuk menjadi sumber penghasilan bagi warganya.

Kepala Biro Humas dan Kerjasama Bonny Prasetya mengatakan pemanfaatan awal Dana Desa untuk membangun infrastruktur seperti jalan desa dan membangun kamar mandi. Setelah itu, desa-desa diarahkan untuk meningkatkan sumber daya manusia berikut perekonomian warga.

Bonny mengatakan total jumlah Dana Desa yang dikucurkan mulai 2018 yaitu Rp187 triliun untuk lebih 74.957 desa. Semula, tiap desa mendapatkan nilai yang sama. Namun, jumlah tersebut berbeda di tahun berikutnya.

"Karena besaran itu disesuaikan dengan kategori desa, yaitu desa tertinggal, berkembang, dan mandiri. Dana desa untuk kategori miskin bisa jadi lebih besar daripada mandiri. Karena kebutuhan untuk membangun desa tertinggal lebih banyak," ujar Bonny kepada Media ditemui di ruang kerjanya, (24/10/2018).

Dari pemanfaatan Dana Desa, pemerintah juga mendapat pengembalian dari bisnis yang dikembangkan. Pengembalian itu berupa pajak penghasilan, penataan daerah wisata yang menambah pendapatan asli daerah, dan pemasukan dari devisa.

"Jadi Dana Desa itu hanya pemicu untuk desa-desa berkembang. Ada juga desa yang dapat mengekspor hasil kerajinan tangan, seperti kain tenun dari Nusa Tenggara Timur. Kain tenunnya menjadi komoditi ekspor yang bernilai," lanjut Bonny.

Bonny mengakui banyak desa yang telah menyumbangkan pendapatan tahunan hingga miliaran rupiah melalui pemberdayaan BUMDes. Berikut daftar sepuluh desa itu yang menyumbang pendapatan tahunan terbesar, yaitu:

1. Desa: Ponggok
   Kabupaten: Klaten, Jawa Tengah
   Bisnis yang dikembangkan: kolam renang dan wisata
   Pendapatan tahunan: Rp10,3 miliar

2. Desa: Tirtinirmolo
   Kabupaten: Bantul, DIY
   Bisnis yang dikembangkan: simpan pinjam
   Pendapatan tahunan: Rp8,7 miliar

3. Desa: Tajun
   Kabupaten: Buleleng, Bali
   Bisnis yang dikembangkan: wisata
   Pendapatan tahunan: Rp5,18 miliar

4. Desa: Karang Kandri
   Kabupaten: Cilacap, Jateng
   Bisnis yang dikembangkan: pembangkit listrik tenaga uap
   Pendapatan tahunan: Rp3 miliar

5. Desa: Kampar
   Kabupaten: Rokan Hulu, Riau
   Bisnis yang dikembangkan: pertanian dan simpan pinjam
   Pendapatan tahunan: Rp3 miliar

6. Desa: Bleberan
   Kabupaten: Gunungkidul, DIY
   Bisnis yang dikembangkan: wisata
   Pendapatan tahunan: Rp2 miliar

7. Desa: Landih
   Kabupaten: Bangli, Jawa Timur
   Bisnis yang dikembangkan: pertanian
   Pendapatan tahunan: Rp1,6 miliar

8. Desa: Pakisan
   Kabupaten: Buleleng, Bali
   Bisnis yang dikembangkan: wisata
   Pendapatan tahunan: Rp1,4 miliar

9. Desa: Kedungprimpen
   Kabupaten: Bojonegoro, Jatim
   Bisnis yang dikembangkan: sewa pompa dan tenda
   Pendapatan tahunan: Rp1,3 miliar

10. Desa: Tunjung
   Kabupaten: Buleleng, Bali
   Bisnis yang dikembangkan: wisata
   Pendapatan tahunan: Rp1,3 miliar.

Selain daripada hal yang tersebut diatas banyak desa-desa lain yang sukses membangun menggunakan Dana Desa dengan baik dan tepat sasaran sehingga manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat desanya, beberapa desa-desa yang sukses membangun menggunakan dana desa diantaranya,

foto Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo (web)

1. Desa Majasari Sukses Kelola Dana Desa

Indramayu Jawa Barat
Di tengah kisah miris tentang korupsi dana desa, ternyata ada desa yang telah secara profesional mengelolah dana desa tersebut sehingga bermanfaat untuk masyarakat. Desa itu adalah Desa Majasari, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang mampu mengelola dana desa secara optimal dan peruntukan yang tepat bagi kesejahteraan masyarakat desa.

Tahun ini Desa Majasari menerima dana desa sebesar Rp809.407, jumlah ini lebih besar dari tahun sebelumnya sebesar Rp620 juta.

Salah satu program yang tengah dijalankan yaitu pembangunan infrastruktur jalan desa dengan cara betonisasi sehingga jalan desa tersebut kini menjadi kuat dan mulus.

Dana desa juga dipakai untuk membangun balai desa dengan konstruksi bangunan dua lantai. Selain itu, Desa Majasari memiliki 250 ekor sapi hidup yang diternakkan dalam kandang sapi komunal dan dikelola oleh pihak desa. Peternakan sapi tersebut mampu membantu perekonomian masyarakatnya dan membuka lapangan pekerjaan bagi warga yang menganggur.

Desa Majasari berhasil meraih predikat Desa Terbaik tingkat Regional Nasional 2016 dan menerima penghargaan dari Presiden Republik Indonesia melalui Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo.

2. Desa Kota Bani Sukses Menurunkan Angka Kemiskinan Warganya
Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu
Berbagai prestasi telah ditorehkan oleh Desa Kota Bani, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Salah satu paling membanggakan adalah keberhasilan desa ini menduduki peringkat ke-6 dari 100 desa di seluruh Indonesia dalam Indeks Desa Membangun (IDM).

IDM sendiri merupakan daftar yang dirilis oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi ( Kemendes PDTT) untuk memperkuat upaya pencapaian sasaran pembangunan desa dan kawasan perdesaan.

Adapun beberapa indikator penilaian yang menjadi dasar sebuah desa masuk ke dalam indeks ini adalah indikator dimensi ekonomi, sosial, dan ekologi.

Melalui indikator penilaian tersebut, Desa Kota Bani berhasil mendapatkan skor 0,937 dan masuk ke dalam kategori Desa Mandiri.

Dengan skor tersebut, selain menduduki peringkat keenam terbaik se-Indonesia, Desa Kota Bani juga berhasil memegang predikat desa terbaik di Provinsi Bengkulu.

Kepala Desa Kota Bani Zaidin mengatakan, salah satu faktor yang menjadi kunci keberhasilannya adalah kesuksesan program pengentasan angka kemiskinan warga desa.

"Dari tahun ke tahun sejak 2015 angka kemiskinan di Desa Kota Bani selalu mengalami penurunan," kata Zaidin di Kantor Kepala Desa Kota Bani, Bengkulu Utara, Senin (8/10/2018).

Tercatat pada 2015 lalu warga prasejahtera di desa ini mencapai 120 kepala keluarga. Selanjutnya, berturut-turut angka itu berkurang menjadi 105 kepala keluarga pada 2016, 81 kepala keluarga pada 2017, dan terakhir menjadi hanya 63 kepala keluarga pada 2018.

Terpenuhinya pelayanan dasar

Salah satu faktor penting dalam keberhasilan Desa Kota Bani menurunkan angka kemiskinan adalah terpenuhinya pelayanan dasar warga desa. Tiga bentuk pelayanan dasar publik di desa itu meliputi barang publik, jasa publik, dan layanan administratif.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kota Bani Zainuri mengatakan ketiga hal tersebut harus didasarkan pada prinsip terbuka, dapat dipertanggungjawabkan, dan melibatkan masyarakat.

Salah satu tugas kami sebagai perangkat desa adalah menggali dan menyampaikan aspirasi masyarakat. Hal ini karena semua program yang akan kita buat haruslah bermanfaat bagi warga desa," ujarnya.

Salah satu jenis program yang cukup signifikan dalam membantu perekonomian warga desa adalah perbaikan jalan produksi pertanian.

Dahulu, sebelum jalan desa diperbaiki, para petani harus membayar biaya angkut Rp 100 ribu per ton. Namun, sejak jalan desa selesai dibangun, tak ada lagi biaya angkut atau langsir sehingga tidak mengurangi keuntungan panen.

Pemanfaatan dana desa

Selain itu, pemanfaatan dana desa dari tahun ke tahun juga turut berperan dalam mengentaskan kemiskinan di Desa Kota Bani. Desa ini sudah mendapatkan aliran dana desa dari pemerintah pusat sejak 2015.

Pada tahun pertama desa ini mendapatkan kucuran dana Rp 291,9 juta. Dana tersebut digunakan oleh untuk membangun gorong-gorong sebagai aliran air sanitasi dan membangun jalan rabat beton.

Kemudian, pada 2016, desa ini mendapatkan dana sebanyak Rp 639,2 juta. Dana itu dipakai untuk memelihara sarana dan prasarana desa.

Pada 2017 desa ini juga mendapatkan bantuan dana desa sebesar Rp 814 juta. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan balai desa, pos keamanan dan lingkungan, pemeliharaan PAUD, pemberdayaan masyarakat dengan penyediaan alat tangkap bagi nelayan, serta membangun jalan rabat beton.

Tahun ini Desa Kota Bani kembali mendapatkan dana desa dengan nominal Rp 684,6 juta. Dana tersebut juga dimanfaatkan untuk membangun pelapis tebing, pembangunan saluran pemukiman (50 persen), pembangunan jalan menuju tempat pelelangan ikan (TPI), pembangunan tribun kecil di depan balai desa, dan pembangunan Tugu Gajah.

"Dalam berbagai pembangunan tersebut kami selalu mengikutsertakan masyarakat desa, baik melalui musyawarah desa atau proses pembangunannya. Kami berharap program-program ini bisa memberikan dampak positif secara langsung terhadap penurunan angka kemiskinan," pungkas Zaidin.


3. Desa Loa Duri Ilir jadi Desa Terbaik Setelah Sukses Kelola Dana Desa
Kabupaten Kutai Kartanegara Kaltim
Desa Loa Duri Ilir, Kabupaten Kutai Kartanegara, Fakhri Arsyad menggerakan masyarakat mengelola ban bekas agar terhindar dari penyakit. Selain itu Fakhri berhasil mensejahterakan warganya melalui dana desa dengan memberi pendidikan usaha.

Sejak kepala desa Loa duri ilir, Fakhri Arsyad memimpin desa tersebut. Ia pun secara bertahap mampu merubah desanya sebagai desa inovatif.

Bank Sampah
Misalnya saja soal sampah. Menurut seorang warga, Marten Odo, sebelumnya di tempat pembuangan sampah desa, menumpuk sampah yang dibuang oleh warga desa. Kemudian Fakhri Arsyad bersama warga desa mulai menata tempat pembuangan sampah desa itu menjadi tempat bercocok tanam.

Sebelum Fakhri Arsyad menjadi kepala desa, setiap tahunnya banyak warga desa Loa duri ilir yang menginggal akibat berbagai wabah penyakit seperti demam berdarah, diare dan malaria. Kemudian Fakhri Arsyad mencoba mencari tahu penyebabnya, ternya sampah yang menjadi biang keladinya.

Di desa ini banyak sekali sampah ban mobil bekas yang berserakan di sekitar rumah warga. Ia lalu mencari tahu bagaimana mengelola sampah ban mobil bekas ini agar bermanfaat, dan sekaligus membasmi sarang dari berbagai jenis penyakit tersebut. ia pun mendapatkan ide untuk mengolah ban bekas tersebut sebagai pot bunga yang kemudian dijual kembali ke berbagai instansi dan perusahaan.

“Kita beli dari masyarakat, kalau ban mobil yang kecil seharga Rp 5.000, dan yang besar seharga Rp 7.000. Masyarakat pun tergerak untuk menjual ban bekasnya sehingga tidak ada lagi ban bekas yang berserakan,” terang Kades Fakhri Arsyad.

Berbagai Pemberdayaan Masyarakat
Selain mengubah sampah ban mobil bekas, Fakhri Arsyad pun berpikir untuk memberdayakan masyarakat desanya. Ia membuat skala prioritas, mengedepankan peningkatan perekonomian warga desanya.

Ia dan warga desa Loa duri ilir kemudian membuat berbagai aktivitas, seperti mengelola limbah kotoran ayam menjadi pupuk organik, memberdayakan kaum perempuannya untuk membuat aneka kue, seperti brownies dan ampyang ikan patin. Tak hanya itu ia pun memberdayakan warga desanya dengan membuat keramba-keramba ikan untuk menurunkan angka pengangguran, serta kegiatan menyablon kaos bagi anak-anak mudanya.

Kini desa Loa duri ilir telah berhasil berhasil bangkit dari desa tertinggal menjadi desa mandiri. Berhasil merubah perilaku warganya untuk menjaga kebersihan lingkungannya, dan berbagai pencapaian lainnya, sehingga membuat sang Kepala Desa, Fakhri Arsyad diundang sebagai tamu inspiratif dalam sebuah acara bincang-bincang di sebuah stasiun televisi nasional (31/08/18).


4. Kampung Muara Benangaq Berprestasi Kelola Dana Desa, Raih Penghargaan Pemprov Kaltim
Kampung Muara Benangaq di Kecamatan Melak, Kabupaten Kutai Barat, meraih penghargaan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (9/10/2018). Penghargaan bagi 12 desa itu diberikan kepada desa atau kampung yang dinilai berprestasi. Khususnya dalam pembangunan desa, penggunaan dana desa, inovatif, dan terbaik dalam pelayanan informasi publik.

Penghargaan diserahkan Gubernur Kaltim, Isran Noor, melalui Asisten III Sekretariat Provinsi Kaltim, H Sabani. Dan juga oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberdayaan Desa Provinsi Kaltim, M Jauhar Effendi. Penghargaan itu dibagi dalam empat kategori.

Pertama adalah kategori Penguatan Pembangunan Dan Pemberdayaan Masyarakat yang menempatkan Kampung Maluang di Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau sebagai Juara 1. Posisi Juara 2 adalah Desa Paser Belengkong di Kecamatan Paser Belengkong, Kabupaten Paser, dan Kampung Muara Benangaq meraih Juara 3.

“Kita berharap ini menjadi salah satu motivasi bagi 190 Kepala Kampung atau Petinggi di 16 kecamatan se-Kubar. Sehingga pembangunan di kampung-kampung makin baik, dan sejalan dengan visi-misi yang dicanangkan Bapak Bupati Kutai Barat, FX Yapan,” ungkap Kepala Bidang Pemerintahan Kampung dan Kelurahan pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung Kubar,(10/10/2018).

“Saya dan warga Muara Benangaq bersyukur dengan penghargaan ini. Jadi kerja keras kami bisa juga mendapat penghargaan seperti ini. Kami tidak menduga ini terjadi,” ujar Petinggi Muara Benangaq, Ismawi, yang menerima penghargaan bagi desanya dalam Rapar Kordinasi II Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Kaltim.

Kategori kedua, adalah Pelaksanaan Prioritas Penggunaan Dana Desa. juara 1
adalah Desa Kerta Bhakti di Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser. Juara 2 diraih Desa Sungai Bawang di Kecamatan Muara Badak,
Kabupaten Kutai Kartanegara. Dan Juara 3 menjadi milik Desa Gunung Makmur di Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara.

Dalam kategori ketiga, yakni Desa Prakarsa Dan Inovatif Desa Loa Duri Ilir di Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara menempati posisi Terbaik. Kemudian Desa Tajur di Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser menjadi Juara 2. Dan Juara 3 untuk Kampung Batu Putih di Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Berau.

Kategori terakhir adalah Pelayanan Informasi Dan Pelayanan Publik. Pada kategori ini, Desa Bhuana Jaya di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara meraih predikat Juara 1. Juara 2 diberikan kepada Desa Sidorejo di Kecamatan Penajam, Kabupaten PPU. Juara 3 diraih Desa Batu Kajang di Kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser.

Dikatakan Jauhar Effendi, tujuan penghargaan ini untuk memacu desa lain yang belum menerima penghargaan agar berbuat lebih baik, dan mengejar ketertinggalannya. “Kepada mereka yang mendapat penghargaan, diharap bisa mempertahankan predikat juaranya. Dan jika bisa meningkatkan prestasi tersebut,” katanya.


5. Desa Cupunagara,Alokasi Dana Desa Berhasil Mengubah Nasib Desanya
Kecamatan Cisalak Subang Jawa Barat
Pemerintah Indonesia menggelontorkan Dana Desa pada desa-desa terpencil, termasuk Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang. Desa Cupunagara terletak diantara gunung lingkung. Gunung lingkung terdiri dari kaki Gunung Canggah, Kaki Gunung Gede, dan Bukit Tunggul.

Tak heran jika di desa ini sulit menemukan koneksi jaringan. Sebelum adanya program dana desa dari pemerintah, Desa Cupunagara ini sempat terisolasi, karena infrastruktur jalan yang tak mungkin dilalui oleh kendaraan.

Desa ini merasakan dampak dari adanya dana desa. Dana desa yang didapat pada tahun 2015 berkisar Rp 300 juta, Dana desa tersebut meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2016 meningkat menjadi Rp 700 juta, 2017 menjadi Rp 930 juta, dan 2018 mendapat Rp 1,13 Milyar.

Sejak adanya dana desa tersebut, pembangunan infrastruktur yang difokuskan adalah infrastruktur jalan, agar akses menuju Desa Cupunagara menjadi mudah. Hal tersebut dikatakan oleh Kepala Desa Cupunagara, Wahidin Hidayat, saat ditemui oleh Tim Media, di Desa Cupunagara, (19/9/2018).

BUMDes bangun usaha Kopi Canggah untuk meningkatkan kualitas ekonomi petani kopi serta masyarakat. Infrastruktur Desa Cupunagara ini sebelumnya jalan desa ini belum beraspal, dan masih dalam bentuk tanah dengan bebatuan. Sehingga penggunaan dana desa digunakan untuk pembangunan infrastruktur jalan.

Tahun 2015 hingga 2018 sepanjang 15km jalan yang sudah diaspal dari total panjang jalan desa 35km Sehingga masih 20km yang harus di aspal. Perubahan yang dirasakan sangat signifkan terhadap perekonomian warga. Karena mayoritas warga merupakan petani sayuran, ongkos angkut distribusi sayuran pun menurun.

"Ongkos angkut per kilonya dari Rp 1000 perkilo, sekarang Rp 500 per kilo. Hal tersebut menjadi suatu keuntungan bagi petani karena tarif distribusi sayuran turun 50%," ujar Wahidin Hidayat, di Desa Cupunagara,

Begitupun dengan masyarakat Desa Cupumagara juga ikut merasakan dampak dari pembangunan jalan tersebut.

Seorang warga Desa Cupunagara, Jajang Saripudin (42), mengatakan semenjak adanya perbaikan jalan, ia merasakan kemudahan untuk pendistribusian hasil tani. Jajang bekerja sebagai petani sayuran dan kopi.

"Sejak ada dana desa, pembangunan infrastruktur lebih berkesinambungan, seperti jalan tadinya berbatu tanah, apalagi musim hujan banyak kecelakaan. Walaupun belum sebagian besar, tapi ini sangat membantu terutama ongkos," ujar Jajang Saripudin.

Tak hanya infrastruktur saja, dana desa yang digunakan Desa Cupunagara meliputi pengadaan dan pemeliharaan fasilitas kesehatan, pembentukan BUMDes, serta pembangunan saluran air atau drainase.

Pada pembangunan serta pemeliharaan bidang kesehatan, dua wilayah sudah melaksanakan revitalisasi Posyandu. Rencananya, setelah pemeliharaan dan pembangunan Posyandu, akan ada ambulans desa, untuk mengangkut pasien kegawat daruratan.
Hal yang paling menonjol pada pemanfaatan dana desa ini, adalah pendirian BUMDes (Badan Usaha Milik Desa).

"Perlu waktu dua tahun untuk pendirian BUMDes, karena kami mendiskusikan terlebih dahulu apa yang akan diusahakan, analisa usahanya bagaimana, serta potensi desanya apa," ujar Wahidin Hidayat.

Meski memerlukan waktu yang lama untuk pendirian BUMDes, namun pendirian BUMDes belum setaun ini sudah berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat, terutama petani kopi. Berdirinya BUMDes Mukti Raharja sekira bulan November 2017 lalu.

Kepala BUMDes Mukti Raharja, Risma Wahyuni Hidayat (23), mengaku sebelum BUMDes mendapatkan kucuran dana, harus membuat proposal usaha, semisal bisnis yang nantinya diajukan ke desa.

Perincian tersebut meliputi keperluan dua unit usaha, yakni mengelola biji kopi serta pengolahan air bersih. Sehingga, BUMDes mendapatkan kucuran dana dari dana desa sebesar 50 Juta untuk dua unit usaha tersebut.

Meski memerlukan waktu yang lama untuk pendirian BUMDes, namun pendirian BUMDes belum setaun ini sudah berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat, terutama petani kopi. Berdirinya BUMDes Mukti Raharja sekira bulan November 2017 lalu.

Kepala BUMDes Mukti Raharja, Risma Wahyuni Hidayat (23), mengaku sebelum BUMDes mendapatkan kucuran dana, harus membuat proposal usaha, semisal bisnis yang nantinya diajukan ke desa.

Perincian tersebut meliputi keperluan dua unit usaha, yakni mengelola biji kopi serta pengolahan air bersih. Sehingga, BUMDes mendapatkan kucuran dana dari dana desa sebesar 50 Juta untuk dua unit usaha tersebut.
Namun setelah adanya BUMDes, biji kopi dijual ke BUMDes dengan harga kisaran Rp 7000 hingga Rp 9000. BUMDes juga memberikan edukasi dan penyuluhan cara pengolahan kopi pada petani kopi bersama Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Subang.

Biji kopi yang ditampung di BUMDes kemudian diolah menjadi kopi dalam kemasan, memiliki brand Kopi Canggah khas Desa Cupunagara. Kopi Canggah ini dijual ke kafe-kafe yang ada di Kota Subang, Bandung, Purwakarta, dan sekitarnya, dengan harga Rp 90.000 per kilogram dalam bentuk green bean

Pemilik Coffee Shop Blackhood di Subang, Angga Maulana (23), mengaku selalu membeli Kopi Canggah untuk kebutuhan di kedainya. Perbulannya Angga dapat membeli 25 kilogram dalam bentuk green bean, serta 15 kilogram dalam bentuk roast bean. Angga mengaku kedai kopinya ramai memesan Kopi Canggah. Hal tersebut dikarenakan Kopi Canggah memiliki keunikan.

"Rasa Kopi Canggah ini berbeda dengan kopi yang ada di Jawa Barat yang rasanya lebih ke fruity, bisa dibandingin dengan eropa, dan tingkat keasamannya tinggi. Tapi Kopi Canggah ini dominan manis, sehingga memiliki keunikannya sendiri," ujar Angga pada Media.

Selain itu, Mbah Tjutju mengaku semenjak adanya BUMDes, tidak susah untuk mengangkut, serta tidak susah cari pasar penjualan, karena BUMDes lah yang melakukan hal tersebut.


"Kami kan awam di permasaran, tidak punya tenaga marketing, mungkin sudah tua juga, jadi tidak punya tenaga pemasaran. Kalau tadinya kami yang cari, kemana harus menjual, sekarang kan agak susah. Terus sekarang dibantu sama BUMDes pemasarannya, ya disitu fungsinya sangat berarti bagi saya," ujar Tjutju pada Media.

Kepala BUMDes Mukti Raharja, Risma Wahyuni Hidayat, mengaku semenjak adanya BUMDes, masyarakat mulai membuka usaha penanaman biji kopi. Awalnya mereka bekerja serabutan, kini mereka menjadi petani hingga pengolahan biji kopi.

"Sejak adanya BUMDes ini, masyarakat mulai melek soal bisnis, dan usaha, karena sebelumnya mereka bekerja serabutan. Kami juga terus mengajak masyarakat buat terlibat dalam proses pengemasan kopi, sehingga BUMDes ini menjadi ajang lapangan kerja buat masyarakat, dengan upah kisaran Rp 300.000 per minggu," ujar Risma.

Tak hanya itu, keuntungan BUMDes selain menambah lapangan kerja, dapat menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah) sekitar 5% untuk dana sosial. Adapun produksi air isi ulang di BUMDes Mukti Raharja. Sebelumnya masyarakat Desa Cupunagara membeli air layak minum di pasar dengan harga Rp 15.000 hingga Rp 20.000, sedangkan air galon aseli Rp 25.000.

Kini, BUMDes mengelola air layak minum berupa air isi ulang galon, dan mempekerjakan masyarakat sekitar, dengan upah Rp 500.000 perbulannya. Dengan adanya air isi ulang ini, masyarakat Desa Cupunagara dapat membeli air layak minum terdekat dengan harga Rp 7.000 per galonnya.

"Sebelum adanya BUMDes, tidak semua tersuply air yang layak minum. Kini setelah ada BUMDes, kami dapat mengkonsumsi air minum yang murah dan rasanya hampir sama dengan yang asli. Harganya hanya Rp 7.000 per galon, diantar sampai rumah dari BUMDesnya," ujar Jajang Saripudin.

Rencana kedepannya, Risma Wahyuni Hidayat (23), Kepala BUMDes Mukti Raharja, akan mengembangkan unit usaha packing house atau pengemasan hasil kebun. Nantinya agar dapat dijual di end user seperto supermarket, swalayan, hingga restoran. Hal tersebut karena Desa Cupunagara penghasil sayuran tomat, selada, buncis, cabe, timun, terong jepang, kol, kentang hingga ubi.

Selain itu, melalui dana desa pula, Kepala Desa membangun drainase dan saluran lingkungan untuk menunjang kualitas hidup yang sehat. Dengan adanya saluran drainase ini, pembuangan air bisa diarahkan ke drainase. Adapun pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) di beberapa wilayah yang rawan longsor.

Desa Cupunagara juga memiliki potensi wisata untuk dikembangkan, yaitu Puncak Eurad. Saat ini Puncak Eurad dikelola dan dikembangkan secaea gotong royong oleh masyarakat Desa Cupunagara dan Desa Wangun Harja.

Karena letaknya berada di perbatasan antara Desa Cupunagara Kecamatan Subang dan Desa Wangun Harja Kecamatan Lembang, pengelolaannya pun dilakukan oleh masyarakat kedua desa tersebut. Kepala Desa mengaku dengan adanya dana desa ini dampaknya begitu besar terhadap pembangunan desa.

"Luar biasa, setelah adanya program dana desa, atau Nawacita Pak Jokowi membangun dari pinggiran dengan mengiplementasikam Dana Desa, ini luar biasa dampaknya terhadap pembangunan di Desa Cupunagara, jadi jalan yang tadinya belum teraspal menjadi diaspal. Itu sangat dirasakan oleh masyarakat," ujar Wahidin Hidayat.

Tak hanya itu saja, Wahidin Hidayat juga bersyukur karena tadinya produksi kebun tidak bisa dilalui sepeda motor.

Dengan adanya dana desa, dapat membuka jalur jalan alternatif produksi tani. Peningkatan kapasitas masyarakat juga didorong oleh ilmu tentang kopi, serta pelatihan-pelatihan, dan studi banding tentang kopi juga.Selain itu dengan adanya dana desa, Desa Cupunagara dapat membangun saluran drainase


6. Desa Sidorejo Sukses Pengelolaan Dana Desa
Kecamatan Keluang Musi Banyuasin Sumatera Selatan
Dana Desa yang dikucurkan oleh pemerintah pusat, sukses dikelola Pemerintah Desa Sidorejo, Kecamatan Keluang, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel), melalui pengucuran modal Badan Usaha Milik Daerah (BUMDes).

BUMDes Sumber Rejo yang dikelola warga Desa Sidorejo, membuat Bumdesmart yang baru dimulai bulan November 2017, sudah mengantongi omset hingga ratusan juta tiap bulan. Bumdesmart turut meningkatkan ekonomi kreatif para warga sekitar dan menekan angka pengangguran di Desa Sidorejo.

Menurut Imron, Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Ekonom Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Banyuasin, melalui permodalan dana desa, Bumdesmart berkembang secara pesat dalam waktu yang singkat.

"Kurang dari satu tahun, omset Bumdesmart alhamdulillah di tahun ini sudah mencapai Rp 200 Juta per bulan," kata Imron kepada media,(6/8/ 2018).

Beragam kebutuhan warga sekitar disediakan di Bumdesmart, sehingga warga tidak perlu lagi ke kota di Musi Banyuasin. Usaha ini juga mendukung kelompok usaha perempuan untuk meningkatkan perekonomian keluarga.

30 persen dari keseluruhan produk yang dijual di Bumdesmart, merupakan produk olahan warga sekitar. Tentu ini menuai apresiasi karena membantu promosi dan pemasaran produk lokal.

"Bumdesmart memang dibentuk dari dan untuk masyarakat desa, salah satunya lapangan pekerjaan bagi warga lokal," kata Imron.

Lokasi Bumdesmart dipilih yang paling strategis di antara beberapa desa. Efeknya, peningkatan transaksi cukup tinggi. Bahkan, minimarket modern ini juga kian diminati para anak muda di sekitar, dengan adanya fasilitas Wifi gratis.

Bumdesmart ini diproyeksikan menjadi toko grosir. Tujuannya jelas, untuk memenuhi kebutuhan warung-warung di sekitar Desa Sidorejo. Anggaran bantuan modal dana desa untuk pemerintah daerah, sudah dianggarkan di tahun 2018 untuk merealisasikan program ini.

"Dengan harga grosir, pengelola warung kecil bisa mengambil barang ke Bumdesmart, dengan harga terjangkau dan hemat uang transportasi," katanya.

Para pengelola warung di desa biasanya membeli barang jualannya di pusat Kabupaten Musi Banyuasin. Jarak Desa Sukorejo ke pusat Kota Musi Banyuasin memakan waktu satu jam. Tentu terjadi inefisiensi waktu, tenaga dan uang.


7. Desa Laha, Pengelolaan Dana Desa Terbaik
Ambon Maluku.
Penyaluran dana desa melalui program Padat Karya Tunai (PKT) berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Beragam sarana dan prasarana desa pun berhasil dibangun dengan partisipasi warga setempat.

Salah satu desa yang dapat menjalankan program PKT dengan baik adalah Desa Laha, di Kota Ambon, Maluku. Pada 2016, misalnya, dana desa digunakan untuk membangun tambatan perahu nelayan dan pemandian umum.

Tambatan perahu nelayan dibangun di RT 001 RW01, dengan biaya lebih dari Rp 407 juta. Sementara pemandian umum dibangun di RT 002 RW 01, yang menelan biaya dana desa sebesar Rp 150 juta.

Sementara pada 2017, ada sejumlah proyek yang berjalan, yakni jalan lingkungan dengan volume 11,616 meter persegi, saluran drainase (5,284), talud (607), sarana olahraga (empat buah), posyandu (tiga buah), jamban (delapan), PAUD (tiga), jembatan (tiga), dan penyediaan air bersih (2,161 meter persegi).

Pada 2016, Kota Ambon mendapat alokasi dana desa sebesar Rp 17,659 miliar lebih dan pada 2017 sebesar Rp 17,090 miliar lebih.


8. Desa Pongok, Kisah Sukses Kepala Desa Junaedhi Kelola Dana Desa
Kabupaten Klaten Jawa Tengah
Program Dana Desa yang digulirkan sejak 2015 telah memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan layanan publik di desa. Salah satu desa yang berhasil memanfaatkan Dana Desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat adalah Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten Jawa Tengah.

Kepala Desa Ponggok Junaedhi Mulyono mengatakan, dengan bantuan program Dana Desa yang digulirkan pemerintah dan pengelolaan yang modern dengan sistem korporasi melalui BUMDes, Desa Ponggok berhasil mengembangkan perekonomian desa melalui pemanfaatan sumber daya alam yang ada.

“Mata air yang ada dulu disewakan 2 juta per tahun saja tidak laku, tapi sekarang bisa menghasilkan 700 juta sebulan,” katanya saat berbicara dalam diskusi publik bertajuk “Dana Desa: APBN Pro Rakyat atau Pro Elite?” di Demang Cafe, Jakarta, (3/8/2018).

Junedhi menambahkan dengan pengembangan BUMDes pula, Desa Ponggok bisa membiayai berbagai kebutuhan masyarakat mulai dari kesehatan hingga beasiswa bagi para pelajar dan mahasiswa. Keberhasilan Desa Ponggok tidak terlepas dari visi yang dibangun seluruh masyarakat desa bersama perangkat desa. Mereka membangun perencanaan bersama mulai dari tata ruang, BUMDes, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), dan pemanfaatan teknologi informasi untuk menunjang produktifitas masyarakat desa.

“Jika semua desa bisa mencontoh apa yang kami lakukan, maka ke depan Indonesia akan memiliki daya saing dan maju,” katanya.

Sementara Dirjen Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Boediarso Teguh Widodo, mengatakan Dana Desa memiliki peran strategis dalam memajukan masyarakat desa.

“Dana Desa bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan publik di desa. Itu menjadi tekad pemerintah dari tahun ke tahun. Tapi dia hanya akan efektif kalau pemanfaatannya juga baik,” ungkap Boediarso

Boediarso menambahkan, dari tahun ke tahun, anggaran program yang merupakan amanat dari UU Nomor
6 Tahun 2014 tentang Desa terus meningkat. Pada APBN tahun 2015 jumlahnya sebesar Rp 20,76 triliun, di 2016 menjadi Rp 46,98 triliun, dan pada 2017 menjadi Rp 60 triliun.
Setelah hampir tiga tahun berjalan, pemerintah akan melakukan evaluasi agar ke depan pemanfaatan Dana Desa semakin baik.

Salah satu upaya tersebut adalah melalui reformulasi dari Dana Desa di tahun 2018 dengan fokus pada pengentasan kemeiskinan dan ketertinggalan secara geografis

"Tujuan pengubahan formula ini untuk mempercepat pengentasan kemiskinan dan kedua memberikan afirmasi kepada desa tertinggal dan sangat tertinggal terutama di daerah tertinggal, kepulauan, dan perbatasan,” pungkasnya

9. Desa-desa Di Provinsi Sumatra Utara yang Sukses Manfaatkan Dana Desa berdasarkan Penilaian PemProv.
Bupati Pakpak Bharat Provinsi Sumatra Utara, Dr. Remigo Yolando Berutu mengisi acara Bedah Buku `Kisah Sukses Dana Desa: Lilin-lilin Cahaya di Ufuk Fajar Nusantara', (24/05/2018) di Aula Simarjarunjung, Kanwil Ditjen Perbendaharaan Negara, Jalan Diponegoro, Medan.

Dalam acara yang dimoderatori Monika R. Sitompul, Kabid Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II Kanwil Ditjen Perbendaharaan Pemprov Sumut dan dipanel oleh Wahyu Ario Pratomo, Ekonom Kemenkeu RI Wilayah Sumut, juga dilakukan sedikit pemaparan oleh beberapa Kepala PMD Pemerintah Kabupaten di Sumatera Utara yang desa-desanya masuk dalam penulisan buku tersebut karena memiliki keberhasilan dalam pengelolaan dana desa.

Adapun desa-desa yang dicantumkan karena dianggap memiliki keberhasilan dalam pengelolaan dana desa di Sumatera Utara, antara lain Desa Sifaoroasi (Nias), Desa Simbou Baru (Simalungun), Desa Kampung Padang (Lab. Batu), Desa Rawang Pasar V (Asahan), Desa Kuta Pinang (Sergai), Desa Perduhapen (Pakpak Bharat), Desa Lumban Gaol (Tobasa), Desa Huraba (Tapsel), Desa Karang Gading (Langkat), dan Desa Jago-jago (Tapteng).

Senada dengan Bupati, Wahy Ario Pratomo juga mengamini pentingnya inovasi dalam pengelolaan Dana Desa, dan beliau memaparkan bahwa inovasi bisa berasal dari mereplikasi yang bisa saja diinspirasi dari Buku ini. Buku ini menjadi implementasi kepedulian untuk pengembangan Desa-desa di Indonesia ke depannya. ( sumber web )

No comments