halaman

    Social Items

BERITA-BERITA TERBARU

gambar animasi web

(suararakyatmerdeka.com)--
“Dalamnya lautan bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu.”
Peribahasa itu barangkali tepat sekali dalam konteks memilih teman. Apalagi memilih teman itu susah-susah gampang, sebab tak semua orang akan loyal pada kita, Ia mau memberikan waktu dan ringan tangan demi menjadi sosok yang selalu ada untukmu.

Tapi kenyataannya, mencari sosok teman yang ideal itu susah-susah gampang. Kamu pun biasanya akan melewati proses seleksi alam, secara tak sadar kamu yang semula dekat dengan satu atau dua orang, perlahan menjauh karena satu atau lain hal. Yang sering terjadi, pada proses ini biasanya diwarnai rentetan drama yang membuatmu tahu, ternyata ada saja teman yang selama ini dekat denganmu nyatanya punya tabiat yang seperti ular. Ya, berbisa dan suka menggigit.

Teman Seperti Ini Awalnya Menyambutmu dengan Penuh Kehangatan, Itulah Mengapa Kamu Tak Kuasa Menerima Arti Hadirnya
Awalnya dia menyambutmu dengan senyum hangat dan kata-kata manis. Meyakinkan kalau dia akan jadi teman yang baik untukmu. Bak mangsa, kamu pun terpikat dengan segala tutur kata manisnya itu. Lewat kacamatamu, dia adalah pribadi yang tepat untuk dijadikan seorang teman. Apalagi pembicaraan kalian pun sering nyambung. Tak ada alasan untuk mengabaikannya. Obrolan demi obrolan pun bergulir. Kamu secara tak langsung jadi membuka diri padanya. Kalian saling bercerita tentang apapun hingga kamu tak sadar bahwa dia kini tahu privasimu yang sebelumnya paling kamu rahasiakan.

gambar animasi web

Pertemananmu Dengannya Berjalan Baik-baik Saja, Sampai Akhirnya Kamu Menyadari Dibalik Senyum Manisnya Itu Dia Menyimpan ‘Bisa’
Kamu adalah tipe yang tak mudah dekat dengan orang yang baru dikenal. Tapi dia punya bakat untuk membuatmu begitu percaya padanya. Segala uneg-uneg mulai dari keluarga, pacar, hingga pekerjaan pun kamu ceritakan padanya. Tak ada penyesalan sama sekali karena kamu memang sudah percaya. Sampai akhirnya momen itu tiba, kamu menyadari apa yang kamu ceritakan hanya padanya kini justru jadi bahan gosip teman-temanmu yang lain. Tercekat, tentu saja. Tapi kamu tak bisa berbuat apa-apa selain kesal padanya.

Bukannya Memberi Klarifikasi, Dia Hanya Minta Maaf dan Menyesali Apa yang Sudah Terjadi
Memaafkan itu memang perlu. Jelas kamu pun sudah memaafkannya, sekalipun ada rasa sakit yang luar biasa menyadari perlakuannya di belakangmu.

“Aku nggak sangka kamu setega ini.” Hanya kata-kata seperti ini yang bisa kamu sampaikan, karena saking tercekat dan tak tahu harus berkata apa. Satu hal yang sejatinya bisa kamu tanyakan yaitu mengapa dia bisa setega itu padamu. Jika dia mengelak atau memberi respon lebih galak, kamu tak perlu menaikkan intonasimu. Kamu cukup hadapi saja dengan sikap cool agar tak perlu buang-buang waktu. Namanya juga ular…

Jelas Masuk Akal Kalau Kamu Memilih Menjauhinya, Untuk Apa Berteman dengan Orang yang Tak Punya Etika
Yang namanya ular lebih baik jauhi saja. Karena kalau kamu kian mendekatinya, itu artinya kamu menyulut bahaya. Kamu perlu tahu, menjauhkan dari teman dekat itu tak selamanya buruk. Apalagi dia ini tipe backstabber alias yang suka menusukmu dari belakang. Demi hidup yang lebih aman nan tenteram, lebih baik putuskan hubungan dengannya secara perlahan tapi tak perlu diumbar-umbar. Rasa ilfeel padanya cukup kamu saja yang tahu. Setidaknya kalau nanti dia kembali berulah dan ‘berganti kulit’ atau mencari mangsa baru, kamu bisa mengingatkan orang lain agar tak jadi korban selanjutnya.

Kehilangan Satu Teman Karena Sifat Buruknya Itu Sah-sah Saja, Percayalah Bahwa Diluar Sana Kamu Akan Menemukan Sahabat Baru yang Jauh Lebih Bersahaja
Kesedihan mungkin saja kamu rasakan begitu menyadari sifat aslinya. Tapi kamu tak perlu berlarut-larut dengan hal itu. Yakinlah bahwa kamu berhak punya teman yang jauh lebih baik darinya. Meninggalkannya bukan berarti kamu jahat, tapi inilah caramu mengambil sikap agar tak lagi jadi korbannya. Kuncinya adalah memaafkannya terlebih dahulu. Tak peduli dia telah mengutarakannya atau memang kata maaf itu tak pernah terucap, yang penting kamu legowo. Percayalah, keikhlasan akan membawamu bertemu dengan orang-orang yang jauh lebih baik lagi.(web)

HATI-HATI MEMILIH TEMAN ! SESERING APAPUN BERGANTI KULIT, ULAR ADALAH ULAR YANG TETAP MENGGIGIT


gambar animasi web

(suararakyatmerdeka.com)--
“Dalamnya lautan bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu.”
Peribahasa itu barangkali tepat sekali dalam konteks memilih teman. Apalagi memilih teman itu susah-susah gampang, sebab tak semua orang akan loyal pada kita, Ia mau memberikan waktu dan ringan tangan demi menjadi sosok yang selalu ada untukmu.

Tapi kenyataannya, mencari sosok teman yang ideal itu susah-susah gampang. Kamu pun biasanya akan melewati proses seleksi alam, secara tak sadar kamu yang semula dekat dengan satu atau dua orang, perlahan menjauh karena satu atau lain hal. Yang sering terjadi, pada proses ini biasanya diwarnai rentetan drama yang membuatmu tahu, ternyata ada saja teman yang selama ini dekat denganmu nyatanya punya tabiat yang seperti ular. Ya, berbisa dan suka menggigit.

Teman Seperti Ini Awalnya Menyambutmu dengan Penuh Kehangatan, Itulah Mengapa Kamu Tak Kuasa Menerima Arti Hadirnya
Awalnya dia menyambutmu dengan senyum hangat dan kata-kata manis. Meyakinkan kalau dia akan jadi teman yang baik untukmu. Bak mangsa, kamu pun terpikat dengan segala tutur kata manisnya itu. Lewat kacamatamu, dia adalah pribadi yang tepat untuk dijadikan seorang teman. Apalagi pembicaraan kalian pun sering nyambung. Tak ada alasan untuk mengabaikannya. Obrolan demi obrolan pun bergulir. Kamu secara tak langsung jadi membuka diri padanya. Kalian saling bercerita tentang apapun hingga kamu tak sadar bahwa dia kini tahu privasimu yang sebelumnya paling kamu rahasiakan.

gambar animasi web

Pertemananmu Dengannya Berjalan Baik-baik Saja, Sampai Akhirnya Kamu Menyadari Dibalik Senyum Manisnya Itu Dia Menyimpan ‘Bisa’
Kamu adalah tipe yang tak mudah dekat dengan orang yang baru dikenal. Tapi dia punya bakat untuk membuatmu begitu percaya padanya. Segala uneg-uneg mulai dari keluarga, pacar, hingga pekerjaan pun kamu ceritakan padanya. Tak ada penyesalan sama sekali karena kamu memang sudah percaya. Sampai akhirnya momen itu tiba, kamu menyadari apa yang kamu ceritakan hanya padanya kini justru jadi bahan gosip teman-temanmu yang lain. Tercekat, tentu saja. Tapi kamu tak bisa berbuat apa-apa selain kesal padanya.

Bukannya Memberi Klarifikasi, Dia Hanya Minta Maaf dan Menyesali Apa yang Sudah Terjadi
Memaafkan itu memang perlu. Jelas kamu pun sudah memaafkannya, sekalipun ada rasa sakit yang luar biasa menyadari perlakuannya di belakangmu.

“Aku nggak sangka kamu setega ini.” Hanya kata-kata seperti ini yang bisa kamu sampaikan, karena saking tercekat dan tak tahu harus berkata apa. Satu hal yang sejatinya bisa kamu tanyakan yaitu mengapa dia bisa setega itu padamu. Jika dia mengelak atau memberi respon lebih galak, kamu tak perlu menaikkan intonasimu. Kamu cukup hadapi saja dengan sikap cool agar tak perlu buang-buang waktu. Namanya juga ular…

Jelas Masuk Akal Kalau Kamu Memilih Menjauhinya, Untuk Apa Berteman dengan Orang yang Tak Punya Etika
Yang namanya ular lebih baik jauhi saja. Karena kalau kamu kian mendekatinya, itu artinya kamu menyulut bahaya. Kamu perlu tahu, menjauhkan dari teman dekat itu tak selamanya buruk. Apalagi dia ini tipe backstabber alias yang suka menusukmu dari belakang. Demi hidup yang lebih aman nan tenteram, lebih baik putuskan hubungan dengannya secara perlahan tapi tak perlu diumbar-umbar. Rasa ilfeel padanya cukup kamu saja yang tahu. Setidaknya kalau nanti dia kembali berulah dan ‘berganti kulit’ atau mencari mangsa baru, kamu bisa mengingatkan orang lain agar tak jadi korban selanjutnya.

Kehilangan Satu Teman Karena Sifat Buruknya Itu Sah-sah Saja, Percayalah Bahwa Diluar Sana Kamu Akan Menemukan Sahabat Baru yang Jauh Lebih Bersahaja
Kesedihan mungkin saja kamu rasakan begitu menyadari sifat aslinya. Tapi kamu tak perlu berlarut-larut dengan hal itu. Yakinlah bahwa kamu berhak punya teman yang jauh lebih baik darinya. Meninggalkannya bukan berarti kamu jahat, tapi inilah caramu mengambil sikap agar tak lagi jadi korbannya. Kuncinya adalah memaafkannya terlebih dahulu. Tak peduli dia telah mengutarakannya atau memang kata maaf itu tak pernah terucap, yang penting kamu legowo. Percayalah, keikhlasan akan membawamu bertemu dengan orang-orang yang jauh lebih baik lagi.(web)

No comments