Halaman

    Social Items

SUARA RAKYAT MERDEKA NEWS " SUARA KEADILAN UNTUK RAKYAT "
BERITA-BERITA TERBARU
FOTO WEB


Suararakyatmerdeka.com
Aksi ribuan warga Gaza kembali digelar di perbatasan Israel pada Sabtu (30/3). Tuntutan penghapusan blokade dibalas Israel dengan tembakan, menewaskan empat warga Gaza.

Diberitakan Reuters, aksi tersebut adalah peringatan setahun demonstrasi "Great March of Return" yang menewaskan sekitar 200 warga Gaza pada 2018. Selain mendesak penghapusan blokade, warga Gaza juga menuntut hak mereka untuk kembali ke tanah-tanah yang dicaplok Israel pada 1948.

FOTO WEB

Menurut perhitungan militer Israel, ada sekitar 40 ribu warga Gaza yang ikut dalam aksi di akhir pekan. Tentara dan tank Israel berjaga di perbatasan, namun yang paling mematikan adalah serangan sniper mereka yang entah dari mana datangnya.

Tiga pemuda berusia 17 tahun tewas tertembak oleh tentara Israel, seorang lainnya meninggal dunia dalam aksi malam sebelumnya.

Semangat juang warga Gaza semakin terbakar dengan seruan-seruan dan lagu-lagu pertempuran Hamas. Pemerintahan Hamas tidak ingin banyak korban jatuh, mereka mengerahkan ratusan orang berompi oranye untuk mencegah warga Gaza terlalu dekat ke pagar pembatas untuk melempari tentara Israel dengan batu.

FOTO WEB

Gas-gas air mata tidak menyurutkan warga Gaza untuk terus mendekat. Tim medis bolak-balik menggotong warga yang terluka tembak. Aksi kali ini terjadi usai serangan roket dari Gaza ke Israel.

Israel mencaplok Gaza pada perang 1967 namun menarik pasukannya dari wilayah itu pada 2005. Pada 2007 Israel memblokade Gaza setelah Hamas menang pemilu Palestina. Israel berdalih, blokade dilakukan untuk mencegah persenjataan masuk ke Gaza.

PBB dan kelompok hak asasi manusia telah mengecam Israel yang dianggap berlebihan dalam menghadapi demonstran Gaza, termasuk menggunakan peluru tajam pada aksi tahun lalu. Israel berdalih, itu perlu dilakukan karena warga Gaza coba melintasi perbatasan dan mengancam kehidupan masyarakat mereka.

FOTO WEB

Pedih diterjang peluru dan perih diasapi gas air mata tidak membuat rakyat Gaza kapok. Mereka mengaku tengah memperjuangkan masa depan yang kini suram akibat blokade Israel.

"Setahun lagi saya akan lulus sekolah. Ayah saya pengangguran, jadi saya tidak bisa masuk universitas. Siapa yang salah? Israel," kata pemuda Gaza berusia 16 tahun, Mohammed Ali.

"Saya tidak tahu berapa tahun lagi akan berlalu hingga kehidupan kami berkembang, tapi kami harus terus protes selama pendudukan dan blokade masih ada," lanjut Ali.(web)

PERBATASAN GAZA ISRAEL BERGEJOLAK , 4 PEMUDA PALESTINA GUGUR

FOTO WEB


Suararakyatmerdeka.com
Aksi ribuan warga Gaza kembali digelar di perbatasan Israel pada Sabtu (30/3). Tuntutan penghapusan blokade dibalas Israel dengan tembakan, menewaskan empat warga Gaza.

Diberitakan Reuters, aksi tersebut adalah peringatan setahun demonstrasi "Great March of Return" yang menewaskan sekitar 200 warga Gaza pada 2018. Selain mendesak penghapusan blokade, warga Gaza juga menuntut hak mereka untuk kembali ke tanah-tanah yang dicaplok Israel pada 1948.

FOTO WEB

Menurut perhitungan militer Israel, ada sekitar 40 ribu warga Gaza yang ikut dalam aksi di akhir pekan. Tentara dan tank Israel berjaga di perbatasan, namun yang paling mematikan adalah serangan sniper mereka yang entah dari mana datangnya.

Tiga pemuda berusia 17 tahun tewas tertembak oleh tentara Israel, seorang lainnya meninggal dunia dalam aksi malam sebelumnya.

Semangat juang warga Gaza semakin terbakar dengan seruan-seruan dan lagu-lagu pertempuran Hamas. Pemerintahan Hamas tidak ingin banyak korban jatuh, mereka mengerahkan ratusan orang berompi oranye untuk mencegah warga Gaza terlalu dekat ke pagar pembatas untuk melempari tentara Israel dengan batu.

FOTO WEB

Gas-gas air mata tidak menyurutkan warga Gaza untuk terus mendekat. Tim medis bolak-balik menggotong warga yang terluka tembak. Aksi kali ini terjadi usai serangan roket dari Gaza ke Israel.

Israel mencaplok Gaza pada perang 1967 namun menarik pasukannya dari wilayah itu pada 2005. Pada 2007 Israel memblokade Gaza setelah Hamas menang pemilu Palestina. Israel berdalih, blokade dilakukan untuk mencegah persenjataan masuk ke Gaza.

PBB dan kelompok hak asasi manusia telah mengecam Israel yang dianggap berlebihan dalam menghadapi demonstran Gaza, termasuk menggunakan peluru tajam pada aksi tahun lalu. Israel berdalih, itu perlu dilakukan karena warga Gaza coba melintasi perbatasan dan mengancam kehidupan masyarakat mereka.

FOTO WEB

Pedih diterjang peluru dan perih diasapi gas air mata tidak membuat rakyat Gaza kapok. Mereka mengaku tengah memperjuangkan masa depan yang kini suram akibat blokade Israel.

"Setahun lagi saya akan lulus sekolah. Ayah saya pengangguran, jadi saya tidak bisa masuk universitas. Siapa yang salah? Israel," kata pemuda Gaza berusia 16 tahun, Mohammed Ali.

"Saya tidak tahu berapa tahun lagi akan berlalu hingga kehidupan kami berkembang, tapi kami harus terus protes selama pendudukan dan blokade masih ada," lanjut Ali.(web)

No comments