Thursday, March 7, 2019

PERLUKAH INDONESA DARURAT TERORIS DAN RADIKALISME JELANG PILPRES/ PILCALEG 2019

FOTO ILUSTRASI PENANGKAPAN TERORIS


(SUARA RAKYAT MERDEKA.COM)--
Serangkaian serangan bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur selama dua tahun terakhir ini memang amat mengejutkan, Sebab selain dilakukan secara simultan terduga pelaku beraksi bersama dengan seluruh keluarganya, sebuah modus yang baru muncul di Indonesia.

Namun,bukan kali ini saja bom bunuh diri terjadi di Indonesia. Berikut serangkaian aksi bom buuh diri yang pernah terjadi di negeri ini.

1. Bom Bali 1

Serangan yang terjadi pada 12 Oktober 2012 ini tercatat menjadi aksi bom bunuh diri pertama di Indonesia. Bom meledak di dua tempat berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan.

Dua pelaku bunuh diri yakni Jimi beraksi di Sari Club sedangkan Iqbal menyerang di Paddy’s Pub Jalan Legian, Kuta, Bali.

Tercatat 202 korban meninggal dunia dan ratusan yang lain terluka. Sebagian besar korban adalah para wisatawan asal Australia.

2. Bom JW Marriot

Ledakan ini terjadi pada 5 Agustus 2003 di hotel berbintang 5, JW Marriot di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Pelaku bom bunuh diri terkonfirmasi atas nama Asmar Latin Sani. Bom ini diledakkan dari dalam mobil di luar area hotel dan menewaskan sebanyak 14 orang termasuk pelaku.

3. Bom Kedubes Australia

Selanjutnya, aksi bom bunuh diri terjadi di depan gedung Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada 9 September 2004.

Pelaku atas nama Heru Kurniawan meledakkan bom dari dalam mobil. Tragedi ini memakan 9 korban jiwa dan melukai lebih dari 180 orang lainnya.

4. Bom Bali II 2005

Untuk kali kedua bom bunuh diri terjadi di Bali, kali ini pada 1 Oktober 2005.

Lokasi serangan adalah kawasan yang dipadati wisatawan yaitu RAJA’s Bar and Restaurant Kuta, dan Nyoman Cafe Jimbaran.

Bom Bali jilid II ini memakan korban meninggal dunia sebanyak 23 orang termasuk pelaku.

5. Bom JW Marriot dan Ritz Carlton 17 Juli 2009

Dua ledakan terjadi di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta dengan selisih waktu lima menit.

Ledakan terjadi di dekat Restoran Plaza Mutiara Hotel JW Marriott dan di coffee shop lobi Hotel Ritz-Carlton. Dua ledakan tersebut mengakibatkan 9 orang meninggal dan 53 luka-luka.

6. Masjid Az-Dzikra Cirebon

Bom bunuh diri berikutnya terjadi di masjid Mapolresta Cirebon sebelum shalat Jumat pada 15 April 2011.

Ledakan ini sang pelaku M Syarif dan melukai 25 orang lainnya termasuk Kapolresta Cirebon, AKBP Herukoco. Aksi ini ditujukan untuk menyerang polisi.

7. Bom Sarinah, Jakarta

Kejadian itu terjadi sekitar pukul 10.39 WIB di kedai kopi Starbucks, bioskop Djakarta Teater pada 14 Januari 2016.

Akibat aksi teror ini dua warga sipil, lima pelaku dinyatakan tewas dan beberapa lainnya luka-luka. Salah seorang pelaku diketahui atas nama Ahmad Muhazan.

8. Bom Mapolresta Solo

Pada 5 Juli 2016, sehari jelang Idul Fitri, terjadi bom bunuh diri di Mapolresta Surakarta. Ledakan ini menewaskan pelaku atas nama Nur Rohman dan melukai seorang anggota polisi.

9. Kampung Melayu, Jakarta

Terjadi dua aksi bom bunuh diri di sekitar Terminal Kampung Melayu pada 24 Mei 2017 malam.

Keduanya terjadi di lokasi berdekatan dalam selang waktu lima menit. Pelaku dan 3 anggota polisi dinyatakan meninggal sedangkan 11 orang dinyatakan luka-luka termasuk lima warga sipil.


foto ilustrasi penjinak bom
10. Bom Surabaya dan Sidoarjo

Dalam aksi terbaru ini, bom bunuh diri terjadi di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur dengan waktu berdekatan pada Minggu (13/05/2018) pagi sekitar pukul 07.00 WIB.

Di hari yang sama sekitar pukul 21.00 WIB bom bunuh diri terjadi di Rusun Wonocolo, Sidoarjo.

Keempat ledakan tersebut memakan korban jiwa sebanyak 17 orang (hingga 14 Mei 2018 pagi).

Kemudian pada Senin (14/5/2018), terjadi aksi bom bunuh diri di Mapolresta Surabaya sekitar pukul 08.50 WIB yang dilakukan lima orang yang merupakan satu keluarga.

Empat orang terduga pelaku dinyatakan tewas di tempat sementara satu sisanya terlempar dan lolos dari maut.


A. Jaringan JAD yang tertidur 'mulai bangkit' aksi bom Surabaya

Aksi teror bom beruntun di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur merupakan eskalasi aksi teror setelah insiden Mako Brimob awal pekan ini dan ada kekhawatiran bukan tidak mungkin jika aksi teror serupa masih akan terjadi lagi di beberapa tempat.

Pengamat Terorisme dari Universitas Malikussaleh, Al Chaidar, menyebut serangan bom pada Minggu (13/05/18) pagi terkait erat dengan insiden yang melibatkan tahanan kasus terorisme di Rumah Tahanan Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, yang terjadi awal pekan ini.

Al Chaidar menuturkan setelah insiden Mako Brimob yang melibatkan 155 napi teroris, mereka membuat seruan jihad kepada seluruh anggota jaringan Jamaah Anshorut Daulah (JAD) melalui sosial media dan jaringan komunikasi interpersonal.

Anggota kelompok yang disebut Departemen Luar Negeri sebagai organisasi teroris ini diperintahkan untuk melakukan serangan di mana pun mereka berada dengan kemampuan apa pun yang ada. Imbasnya, anggota di berbagai daerah sontak merespon seruan jihad itu.

"Saya yakin sekali akan terjadi aksi-aksi serupa karena serangan yang disebarkan oleh para napi teroris di Mako Brimob itu sampai sekarang belum dicabut dan sampai hari ini belum ada pernyataan dari Aman Abdurrahman sebagai imam dari kelompok JAD untuk menghentikan serangan-serangan tersebut," ujar Al Chaidar kepada BBC Indonesia.

Badan Intelijen Nasional (BIN) pun meyakini bahwa kelompok JAD berada di balik aksi teror di beberapa gereja di Surabaya, seperti dijelaskan Direktur Komunikasi BIN, Wawan Purwanto.

"Target utamanya tetap otoritas keamanan. Tapi kita bisa sebut bahwa (serangan gereja) ini adalah target alternatif ketika target utamanya tak berhasil," ujar Wawan seperti dikutip dari Reuters.

Seperti diberitakan, sedikitnya 13 orang meninggal dan 40 lainnya dilarikan ke rumah sakit terdekat karena mengalami luka-luka lantaran rentetan pengeboman di tiga gereja di Surabaya.

Menurut polisi, bom pertama meledak sekitar pukul 07.30 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara, Surabaya, dan selang sekitar lima menit kemudian bom kedua meledak di gereja Pantekosta di jalan Arjuno.

Petugas keamanan gereja, Erens A Ratupa menuturkan ledakan terjadi ketika jemaah masih melakukan doa misa.

"Itu spontan sekali, cepat sekali. Dia masuk pas melempar bom terus akhirnya terjadilah ledakan. Itu masih doa misa mau selesai, mungkin antara 5-10 menit pas mau keluar tapi belum sempat. Sudah berdiri langsung meledak," ungkap Erens.

Tidak lama kemudian, bom meledak di gereja GKI di jalan Diponegoro.

Peristiwa keempat setelah insiden Mako Brimob

Serangan bom berantai di Surabaya merupakan peristiwa terkait teror keempat setelah terjadinya pemberontakan atau kerusuhan di Mako Brimob oleh 155 napi terorisme, Selasa (08/05) lalu yang menewaskan lima polisi.

Dua hari setelah berakhirnya pemberontakan para napi itu, terjadi penikaman terhadap anggota satuan intel Brimob, Bripka Marhum Frence, 41 tahun, oleh Tendi Sumarno, 23 tahun. Bripka Marhum Frence tewas di rumah sakit, sementara Tendi Sumarno tewas ditembak anggota Brimob lain.

Keesokan harinya, juga di sekitar Mako Brimob, ditangkap dua perempuan belia Dita Siska Millenia, 18 tahun, dan Siska Nur Azizah, 21 tahun, yang dicurigai hendak melakukan aksi penusukan terhadap petugas.

Lalu pada Minggu (13/05/18) dini hari, empat orang terduga teroris tewas di Cianjur tewas ditembak, yang menurut polisi dikarenakan mereka melawan ketika hendak ditangkap.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto mengungkapkan keempat terduga teroris itu merupakang anggota JAD Jabodatebak yang dua pentolannya kini sudah menjadi napi teroris.

"Mereka merencanakan penyerangan pos polisi, kantor polisi, di wilauyah Jakarta, Bandung, dan Mako brimob kepala dua dengan cara hit and run , menggunakan senjata api yang mereka punya, kemudian panah dan busur yang diujungnya dibuat bom," ujar Setyo dalam konferensi pers.

Selain itu, dua terduga teroris di Sukabumi, Jawa Barat dan Cikarang, Bekasi turut pula diamankan pada Minggu pagi.

"Mereka adalah boleh disebut sebagai sel-sel tidur yang bangkit menjelang ramadhan dan menjelang lebaran," ujar Setyo.

Dan beberapa jam setelah itu, terjadi serangan di tiga gereja Surabaya.

Diakui Al Chaidar, seruan jihad paling banyak direspon oleh anggota kelompok yang berada di Jawa Timur dan Jawa Barat, walau anggota lain di Bogor, Banten, Madura dan Jawa Tengah pun merespon seruan jihad itu.

"Angka yang sangat tinggi ini membuat para peneliti yakin akan ada serangan di kota Surabaya, jadi ini sangat berkaitan dengan insiden yang terjadi di Mako Brimob, Depok," jelas Al Chaidar.
Dia menilai aksi teror di Surabaya dinilai sangat terorganisasi, mengingat pengeboman terjadi hampir serentak di tiga gereja yang sedang melakukan misa pagi, yang sudah pasti banyak orang terakumulasi untuk menjalankan ibadah.

Menurut Al Chaidar, kelompok tersebut membuat strategi untuk memecah konsentrasi polisi, yakni dengan mengalihkan serangan tersebut dari Depok ke berbagai tempat mereka berada.

"Dan yang tadinya targetnya hanya target utama, yaitu polisi, mereka juga melakukan target-target kedua seperti rumah ibadah non-muslim dan target ketiga adalah tempat keramaian," jelas Al Chaidar.

"Jadi saya kira tempat keramaian harus dihindari oleh publik untuk saat ini dan sampai mungkin harus lebaran, karena tempat-tempat keramaian masih menjadi target yang juga sangat empuk bagi mereka," imbuhnya.

Anak kecil dilibatkan langsung?

Wakapolrestabes Surabaya, Ajun Komisaris Besar Benny Pramono, menyatakan, pelaku bom bunuh diri di salah-satu gereja, yakni Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro, Surabaya, diduga seorang ibu yang membawa dua anaknya.

"Ibu dan dua anaknya yang berupaya masuk ruang kebaktian ini sempat dihalau oleh seorang sekuriti di pintu masuk GKI jalan Diponegoro, Surabaya, sebelum kemudian (ketiganya) meledakkan diri di halaman gereja," katanya.

Ibu dan dua anak tersebut berupaya masuk ke ruang kebaktian, sempat dihalau oleh seorang satpam di pintu masuk GKI Jalan Diponegoro Surabaya, sebelum kemudian mereka meledakkan diri di halaman gereja.
"Sekuriti yang menghalaunya adalah salah satu korban yang terluka parah," ucap Benny kepada wartawan.

Menurut Benny, perempuan dewasa dan dua anak tersebut tewas seketika di lokasi kejadian.

Pengamat teroris Sydney Jones mengatakan ini bukan kali pertama serangan teror pengeboman dilakukan oleh perempuan.

Meski tidak berhasil melakukan serangan bom bunuh diri dengan bom panji di Istana Negara pada 2016 lalu, Dian Yulia Novi menjadi perempuan pertama yang mengambil peran sebagai pelaku langsung untuk suatu serangan bom bunuh diri.

Kendati begitu, yang membedakan dari serangan itu ialah diikutsertakannya anak kecil dalam serangan tersebut. "Ini pertama kali ada anak kecil," ujarnya.

Hal ini diamini oleh Al Chaidar. Jika sebelumnya anak-anak dibawah umur tidak dilibatkan langsung dalam aksi jihad, kini mereka dilibatkan langsung untuk 'mengecoh' pihak keamanan.

"Baru sekarang ini anak-anak dibawa langsung untuk dilibatkkan dalam perang, dalam serangan untuk mengecoh atau pun mengalihkan perhatian dari orang-orang," tutur Al Chaidar.

"Padahal dengan adanya perempuan dan anak-anak itulah mereka punya kesempatan untuk memasukkan diri mereka ke dalam sebuah tempat yang menjadi target untuk diledakkan, " imbuhnya.

Pelaku satu keluarga

Sore harinya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut bahwa berdasar investigasi kepolisian, pelaku pengeboman di Surabaya merupakan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan empat anaknya.

Dita bersama istrinya Puji Kuswanti dan dua anaknya, berangkat menggunakan Toyota Avanza yang telah dipasang bom.

Dia kemudian menurunkan istri dan kedua anak perempuannya yang berusia 12 tahun dan 9 tahun di GKI Diponegoro lalu membawa mobil yang diduga berisi bom menuju Gereja Pantekosta.

Sementara itu, dua anak laki-laki mereka berangkat sendiri menggunakan motor ke gereja Santa Maria. "Semua adalah serangan bom bunuh diri,"

Tito menuturkan D adalah ketua JAD Jawa Timur dan pernah bertempur di Suriah. JAD merupakan pendukung utama ISIS di Indonesia.

Lebih lanjut, Tito menuturkan pihaknya akan menggandeng Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk menangkap sel-sel teroris JAD.


B. Kapolri Sebut Ada 9 Jaringan Teroris di Indonesia
Mantan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, pernah menyebut ada sembilan jaringan yang diduga teroris di Indonesia. Dia juga tidak menutup kemungkinan setiap jaringan itu berhubungan satu sama lain.
 

Badrodin tidak menyebutkan secara lengkap nama-nama jaringan teroris itu. Namun, di antaranya yang dia sebutkan adalah jaringan lama seperti Mujahidin Indonesia Timur, Mujahidin Indonesia Barat, Laskar Jihad, Jamaah Anshaarut Tauhid, dan Daulah Islamiyah Nusantara.

"Sekarang ini zamannya sudah modern, sudah bisa koneksi satu sama lain. Mungkin kelompok itu mengatakan tidak ada hubungannya dengan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), tetapi secara perorangan mereka bisa komunikasi satu sama lainnya," kata Badrodin.

ISIS adalah salah satu kelompok yang disebut Badrodin dan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan mengancam Indonesia saat ini. Kelompok yang berasal dari Timur Tengah itu berniat mendirikakn kekhalifahan Islam.

Pemerintah Australia juga menyebut ISIS hendak mendirikan kekhalifahan di Indonesia. Negara tetangga itu khawatir Indonesia akan dijadikan basis untuk melakukan serangan ke tanah airnya.

Namun, hal tersebut sudah dibantah oleh Badrodin dan Luhut. Mereka meyakini ISIS tidak akan mendirikan kekhalifahan di Indonesia.

Sementara itu, jaringan-jaringan lain yang disebutkan sudah lebih dulu berkembang di Indonesia. "Secara ideologis mereka semua hampir sama, dalam rangka mendirikan negara Islam," kata Badrodin.

Salah satu jaringan yang paling diburu adalah Mujahidin Indonesia Timur yang dipimpin Santoso alias Abu Wardah. Jaringan yang berbasis di Poso, Sulawesi Tengah, diduga bertanggungjawab atas serangkaian serangan kepada Polisi.

Untuk memburu Santoso, Polri dan TNI melaksanakan operasi Camar Maleo. Operasi ini, kata Badrodin, tetap berjalan meski Polri juga melaksanakan operasi Lilin untuk mengamankan natal dan tahun baru.

"Justru kami lakukan upaya yang sekarang adalah itu untuk menjamin masyarakat kita jangan ragu-ragu beraktivitas sebagaimana biasa, lakukan kegiatan sebagaimana mestinya. Kemudian kalau ada yang merayakan pergantian tahun silakan dilakukan, tetapi jangan berlebihan, sederhana saja," ujarnya.
C. Metamorfosis Jaringan Teroris di Indonesia dari NII hingga JAD

Kapolda Bali Irjen Petrus R Golose bicara soal skema metamorfosis kelompok radikal di Indonesia. Dia mengatakan jaringan teroris di Indonesia berawal dari kelompok Negara Islam Indonesia (NII).

Mantan Deputi Bidang Kerjasama Internasional Badan Nasional Penanggulangan Teroris itu hari ini menjadi pembicara seminar bertaju Cara Terbaik Menangani Terorisme' yang diprakarsai Mahasiswa Program Doktoral STIK/PTIK. Petrus menggantikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebagai pembicara.

"Metamorfosis dari jaringan teroris Indonesia berawal dari kelompok Darul Islam atau Negara Islam Indonesia," kata Petrus di Auditorium Mutiara STIK/PTIK, Jl Tirtayasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (22/2/18).

Petrus mengatakan Kelompok Darul Islam kemudian terpecah dan berdirilah kelompok Jamaah Islamiyah atau JI pada 1 Januari 1993. Kelompok ini kemudian berkembang dan berganti sebutan menjadi kelompok Majelis Mujahidin Indonesia pada 5 Agustus 2000.

"Pada September 2008, kelompok Majelis Mujahidin Indonesia atau MMI berkembang dan dikenal dengan sebutan kelompok Jamaak Ansharut Tauhid," ujar Petrus.

Masih kata Petrus, sementara kelompok NII dalam perkembangannya eksis dengan sebutan kelompok Mujahidin Indonesia Barat (MIB). Dari JAT dan MIB, tambah dia, kemudian berkembang jaringan-jaringan teroris Jamaah Anshorut Syariah (JAS), Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan Jamaah Ansharut Khilafah (JAK).

"Dari keduanya (JAT dan MIB) kemudian muncul jaringan-jaringan teroris JAS, MIT, JAD dan JAK," ucap Petrus.

Petrus juga mengulas soal aksi teror dalam tiga tahun terakhir. Tercatat ada 19 kali serangan dari kelompok terorisme dan orang yang terpapar radikalisme atau yang disebut lonewolf dan leaderless jihad dalam kurun itu. Serangan terbanyak terjadi di 2016.

"Di antaranya Bom Thamrin pada Januari, Bom Polres Surakarta pada Juli, Bom Gereja Santo Yosef pada Agustus, Serangan INP pada September, Bom Gereja Oikumene pada Oktober, rencana serangan teror kantor Polres Tangeran
g Selatan dan kantor Polsek Senen pada Desember," jelas dia.

Belakangan, imbuh Petrus, teroris menjadikan anggota Polri sebagai target serangan mereka. "2015, sebanyak dua polisi terluka. 2016, satu orang meninggal dan 9 luka-luka. 2017, tiga orang meninggal dan 14 orang terluka. 2018 tiga polisi terluka," tutur dia.

Selain Petrus, Profesor Rohan Gunaratna dari Nanyang Technological University Singapura dan Profesor Andrew Tan dari Macquarie Australia juga menjadi pembicara di seminar ini. (aud/idh)

D. Ketua DPR bereaksi keras atas teror bom yang menyasar tiga gereja di Surabaya,

Ketua DPR Bambang Soesatyo bereaksi keras atas teror bom yang menyasar tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/5/18). Mantan ketua Komisi Hukum DPR itu mengutuk pelaku pengeboman yang telah merenggut 13 korban jiwa dan puluhan luka-luka.

"Saya mengutuk keras tindakan biadab di tiga gereja di Surabaya secara serentak yang memakan korban, tidak saja orang dewasa tapi juga anak-anak," ujar Bambang di Jakarta,

Bamsoet mengatakan, peristiwa di Surabaya menyadarkan publik bahwa para pelaku teror hidup di tengah-tengah masyarakat. "Bisa jadi mereka juga ada media sosial yang selama ini mengutuk dan mencaci maki aparat yang melakukan penindakan kepada para terduga teroris dengan tuduhan pelanggaran HAM," ungkapnya.

Menurut Bamsoet, pasca-tragedi penyanderaan di Mako Brimob beberapa waktu lalu, jaringan atau sel-sel teroris yang selama ini terkesan tidur mulai muncul ke permukaan. Mulai dari aksi penikaman anggota intel Polri di Depok, hingga aksi peledakan bom di beberapa titik di Surabaya yang memakan korban anak-anak tak berdosa.

"Kita tidak tahu berapa banyak lagi target mereka. Sebagai ketua DPR RI, saya kehabisan kata-kata untuk mengutuk keras aksi bom bunuh diri yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di tiga gereja di Surabaya, kecuali mendorong aparat penegak hukum untuk segera mengungkap jaringan pelaku serta menindak tegas tanpa pandang bulu," tegasnya.

Legislator Golkar itu menambahkan, aksi terorisme tidak bisa dibiarkan. Menurutnya, tidak ada satu pun ajaran agama yang memperbolehkan umatnya membunuh orang lain.

"Aparat keamanan harus menindak tegas pelaku dan jaringan terorisme yang terlibat. DPR meminta tindakan para pelaku harus segera diproses hukum. Sebab, apabila aparat kepolisian tidak bergerak cepat, dikhawatirkan akan ada pihak yang memprovokasi masyarakat sehingga kerukunan dan kedamaian bisa terganggu," ujar anggota Dewan Pakar Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) itu.

Lebih lanjut Bamsoet mengatakan, negara tidak boleh memberikan ruang toleransi bagi para pelaku tindak kekerasan dan terorisme. Apalagi, tindak kekerasan dan terorisme bisa mengganggu kerukunan dan keharmonisan dalam masyarakat.

"Saya mengingatkan Indonesia sudah memasuki darurat terorisme. Sebab, serangan demi serangan terorisme masih terus terjadi di beberapa wilayah Indonesia," ulasnya.

Karena itu Bamsoet meminta Badan Intelijen Negara (BIN) dan Polri segera mengusut tuntas pelaku pengeboman beserta motifnya secara professional, objektif dan saksama. Penjagaan di tempat-tempat ibadah juga perlu lebih ditingkatkan lagi, mengingat serangan terhadap tempat ibadah merupakan serangan terencana.

Bamsoet juga mendorong TNI membantu Polri dalam menumpas jaringan terorisme. Selain itu, katanya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) harus lebih aktif dan tegas mengantisipasi pergerakan terorisme.

"Mari rapatkan barisan. Kinilah saatnya kita berjihad membela negara. Saya meminta masyarakat turut aktif berpartisipasi melaporkan kepada aparat keamanan setempat jika menemukan atau mengetahui hal-hal yang mencurigakan. Masyarakat juga jangan mudah terprovokasi oleh berita yang belum jelas kebenarannya. Semuanya saya minta tetap tenang dan mempercayakan sepenuhnya masalah pengamanan kepada aparat kepolisian," pungkasnya


E. Melibatkan TNI dalam memberantas terorisme.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Mulyono pernah menegaskan, pihaknya masih menunggu aturan untuk melibatkan jajaran prajuritnya dalam memberantas terorisme.

"Semua ada aturanya. Teman-teman Polri saat ini sedang bekerja. Tapi bila diminta, kami siap," ucap Mulyono di Mabes TNI AD (14/5/18).


Sebelumnya, pelibatan TNI dalam memberantas Terorisme masih menjadi dilema. Aturan melibatkan TNI belum dikukuhkan lantaran revisi Undang-Undang (UU) Terorisme tak kunjung disahkan. Hal ini yang kemudian TNI tak kunjung dilibatkan.

Mulyono menjelaskan, dalam pemberantasan teroris, penindakan mempunyai SOP. Termasuk TNI yang didesak untuk terlibat, karena itu dia menegaskan, melibatkan prajurit harus memiliki aturan.

Termasuk saat menebarkan prajurit terbaik atau sniper-sniper yang dimiliki. Mulyono menjelaskan, pemberantasan itu tidak harus jago menembak, melainkan berbagai komponen, salah satunya masyarakat.

"Yang paling penting, prinsip tidak memberikan peluang kesempatan dan tempat untuk berada di wilayah NKRI," katanya.

Meski demikian, dalam mengantisipasi tindakan teror. Mulyono menegaskan pengamanan tetap dilakukan, salah satunya menjaga sejumlah objek vital.

Terlebih saat ini, Mulyono menyebutkan teroris tengah memegang kendali artinya, mereka dapat meledakan di manapun.

"Untuk itu introspeksi, evaluasi, dan tingkatkan deteksi dini kita. Yang tahu terorisme seluruh komponen bangsa kita. Bukan hanya Polisi dan TNI, tapi juga masyarakat. Jadi informasikan bila ada informasi terduga teroris," tutupnya.

foto ilustrasi perang kota

F. Pola Terorisme Berubah, Dari Bom Bunuh Diri ke Perang Kota

Pola Terorisme Berubah, Dari Bom Bunuh Diri ke Perang Kota
Polri menengarai adanya perubahan pola aksi terorisme di Indonesia. Aksi terorisme yang biasanya dilakukan dengan bom bunuh diri kini berubah menjadi pembunuhan langsung terhadap target dengan menggunakan senjata api.

"Dari rangkaian perencanaan stratgeis yang mereka lakukan, ini bukan cuma bunuh diri, merekrut orang, tapi mereka melakuakan assasination terhadap siapa saja yang nyawanya sah untuk diambil, mereka melakukan gerilya kota," kata Mantan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan (24/9/10).

Menurut BHD, penyerangan teroris dengan pola baru itu sudah terlihat dari kasus penyerangan teroris terhadap kantor badan PBB, UNICEF, di Aceh, beberapa waktu lalu. Saat itu, terjadi kontak senjata. Beruntung pelaku dapat dilumpuhkan.

Kasus penyerbuan teroris yang terakhir, tentu saja terhadap Mapolsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut). Belasan pelaku yang datang ke Polsek tersebut pada diri hari langsung menembakkan peluru panas secara membabi buta. 3 Personel kepolisian tewas dalam kejadian tersebut.

"Mereka siap mati dan menganggap mati syahid akan masuk surga. Mereka juga menganggap kita ini semua thaghut, kaum kafir. Menurut mereka, kalau ditangkap, tidak bisa gratis. Artinya mereka melakukan perlawanan," kata BHD.

BHD menjelaskan, kelompok teroris sangat mudah beradaptasi di tengah-tengah masyarakat. Mereka memiliki kartu identitas dan sangat pintar untuk membuat orang lain percaya.

Para teroris tersebut, lanjutnya, umumnya menguasai teknis penggunaan senjata api dan paham tentang strategi peperengan. Mereka pernah mendapat pelatihan di pakistan, Afghanistan, Filipina atau di dalam negeri seperti Poso dan Maluku.

"Kita paham teroris ada di mana-mana. Tapi kita tidak boleh kalah. Saya sudah perintahkan seluruh Polda untuk menyiapkan kegiatan penanggulangan terhadap kelompok-kelompok ini," kata pria berkacamata ini.


G. Ancaman Terorisme, Panglima TNI Minta Prajurit Siap Perang Kota

Mantan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto pernah memerintahkan prajuritnya mempersiapkan diri menghadapi perang kota.

Menurut Hadi, perang kota ini untuk menghadapi ancaman terorisme. Ia mengatakan terorisme merupakan salah satu ancaman untuk negara ini.

Hadi mengatakan, tindak kejahatan itu berpotensi terjadi di mana saja, terutama di perkotaan. Medannya yang berbeda dari lokasi tempur tentara pada umumnya membutuhkan perhatian khusus.

"Kalau kita perang di hutan, musuhnya jelas. Ketika kita melaksanakan perang kota, yang dihadapi ada masyarakat, ada terorisme itu sendiri," kata Hadi di Kementerian Pertahanan, Jakarta (16/01/19).

Untuk itu, dia meminta prajurit TNI bersiap. Tentara harus mengembangkan kemampuan perang kota yang saat ini sudah dimiliki. Hadi ingin konsep dan praktek perang kota dikembangkan lagi.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara itu juga berpesan agar perlengkapan perang kota disiapkan. "Kita harus sudah memulai menggunakan teknologi nano," ujarnya. Dia juga ingin senjata "tak mematikan" (non lethal weapons) juga dikembangkan seperti penggunaan frekuensi suara tinggi, termal, infrared, dan koordinat.

Hadi mengaku ingin belajar dari kegagalan operasi tentara Amerika Serikat di Somalia atau yang dikenal dengan BlackHawkDown. Di Marawi, kata Hadi, perang kota berhasil namun dibombardir. "Jadi TNI siapkan diri. Apa perlengkapannya, diajukan, dilatih, dan dilaksanakan kegiatan yang terus mengarah ke professionalisme prajurit," katanya.

Pelibatan TNI dalam penanggulangan terorisme diatur dalam Undang-Undang Tindak Pidana Terorisme pasal 43I ayat 1 sampai 3. Dalam ayat 1 disebutkan Tugas TNI dalam mengatasi aksi terorisme merupakan bagian dari operasi militer selain perang. Ayat 2 menyebutkan dalam mengatasi aksi terorisme sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi TNI.

Sedangkan Ayat 3 menyatakan, Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan mengatasi aksi terorisme sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden.


H. Lokasi-Lokasi Strategis ISIS untuk Perang Kota di Indonesia
Lokasi-Lokasi Strategis ISIS untuk Perang Kota di Indonesia
Bagi para jihadis ISIS, hutan bisa dijadikan sebagai lokasi paling efektif untuk melakukan perang gerilya dan perang kota.

Perang di Marawi antara tentara Filipina dan ISIS sudah berlangsung selama lebih kurang tiga bulan. Strategi perang kota yang dipraktikkan ISIS membuat militer pemerintah kerepotan. (6/8/17) total prajurit yang tewas mencapai 122 orang dan warga sipil 45 orang. Ke depan, angka ini sangat mungkin bertambah.

Di Indonesia sendiri, tidak sedikit jihadis yang telah berbaiat ke ISIS. Pada 2015, menurut Mantan Kabid Pencegahan Densus 88 AKBP Djoni Djuhana dalam diskusi “Mencegah Terorisme Gaya Baru di DPP Taruna Merah Putih”, (10/8/17), diketahui terdapat 1.000 orang bekas jihadis ISIS di Irak dan Suriah yang kembali ke Indonesia.

Meskipun ada usaha untuk melakukan deradikalisasi dan mengawasi setiap gerak-gerik ISIS, menurut Djoni, kemungkinan mereka akan melakukan perang di Indonesia selalu ada. Terutama bila berkaca pada serangkaian penyerangan yang dilakukan ISIS kepada polisi di Kampung Melayu dan di Blok M belum lama ini.

Menurut mantan anggota Al-Qaeda dan mantan narapidana terroris Sofyan Tsauri dalam kesempatan yang sama, terdapat beberapa lokasi di Indonesia yang memungkinkan bagi ISIS untuk melakukan perang kota.

Sofyan menyebut Bima dan Poso sempat menjadi kota yang sempat direncanakan oleh jihadis di Indonesia sebagai Madinatul Fatah atau kota pembuka terjadinya perang.

"Kemudian daerah Banten (dan) Jawa Tengah yang masih mempunyai hutan-hutan," kata Sofyan kepada Tirto usai diskusi di DPP Taruna Merah Putih, Kamis.

Bagi para jihadis, dalam qaidah aminah atau kaidah mengamankan diri yang mereka pelajari, hutan bisa dijadikan sebagai lokasi paling efektif untuk melakukan perang gerilya dan perang kota.

"Karena mainnya sebentar. Tembak-tembakan paling setengah jam. Tapi persoalannya, abis itu mau lari ke mana yang harus dipikirkan," katanya menjelaskan.

Selain hutan, menurutnya, yang juga dipertimbangkan adalah daerah yang dekat dengan laut internasional dan berbatasan dengan negara tetangga. Sofyan pun mengaku bersama Dulmatin, otak Bom Bali I yang kepalanya pernah dibandrol seharga 10 juta dolar AS oleh pemerintah Amerika, pernah merencanakan Aceh sebagai kota pemantik perang pada 2009.

"Kami sudah berkomunikasi dengan milisi GAM saat itu. Secara geografis, Aceh itu dekat laut internasional, banyak hutan. Secara masyarakat juga sudah tinggi sentimen keislamannya," kata Sofyan.

Hanya saja, menurutnya, saat itu anak buahnya bertindak tidak sesuai arahan dengan melakukan sejumlah penembakan pada 2009, termasuk kepada seorang guru berkewarganegaraan Amerika yang ternyata beragama Islam.

"Biidznillah, akhirnya tempat pelatihan kami juga ketahuan," kata Sofyan.

Selain itu, kota besar seperti Jakarta dan Semarang juga dianggap Sofyan berpeluang untuk menjadi area perang para jihadis. "Selain perang gerilya, kan juga ada perang kota yang butuh banyak gedung. Di Semarang juga daerah perbukitan," kata Sofyan.

Bila melihat kepada lokasi geografis Marawi, ibu kota Provinsi Lanao del Sur ini adalah kota yang indah, dikelilingi perbukitan dan udara sejuk, dengan ketinggian di atas 700 mdpl, terletak di tepian Danau Lanao–danau terbesar kedua di Filipina.

Pertimbangan lokasi di Marawi, menurut Sofyan, juga tidak melulu mengenai cara kabur tetapi juga berkaitan dengan akses sokongan logistik dan senjata selama perang berlangsung.

"Indonesia kalau mau perang awur-awuran di laut juga banyak yang jual senjata. Yang punya kapal selam bebas saja itu jual di laut, karena perbatasan ribuan kilometer juga tidak ada yang jaga," kata Sofyan.


I. Distabilitas Politik Jadi Pintu Masuk ISIS

Pria yang sebelum menjadi teroris pernah menjadi anggota Brimob ini pun menyatakan peluang ISIS untuk dapat membuat konflik di Indonesia adalah ketika terjadi distabilitas politik.

"Kemarin seperti kasus Ahok sudah banyak yang siap-siap kalau terjadi meledak ada yang mencari senjata siapa, ada yang mencari duit jatah, sudah seperti Suriah," kata Sofyan.

Bulan Desember ketika demo 212, menurut Sofyan, Densus 88 telah menangkapi anggota ISIS yang ikut demo anti Ahok. "Coba lihat dan renungkan kembali fakta adanya Abu Al Usaibah, ada lagi tokoh ISIS seperti Syamsudin Uba yang di Pekayon itu ikut demo," kata Sofyan.

Selain itu, menurut Sofyan, yang membuat paham ISIS lebih mudah menyebar untuk melakukan


J. Presiden Jokowi mengeluarkan Perppu jika DPR tak merampungkan revisi Undang-undang Terorisme.

Anggota Komisi III DPR, Arsul Sani mengaku pihaknya tidak bisa berandai-andai mengenai rencana Presiden Jokowi mengeluarkan Perppu jika DPR tak merampungkan revisi Undang-undang Terorisme.

"Wong ini tinggal milih opsi A atau B kok susah sekali," kata Arsul di rumah dinas Menko Polhukam, Kuningan, Jakarta (14/5/2018).

Menurutnya, fraksi di parpol pengusung pemerintah tidak menyarankan pemerintah mengeluarkan Perppu. Sebab satu masalah dalam revisi UU Terorisme sudah mengerucut.

Ketua Fraksi PPP ini mengaku memahami usulan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang meminta pemerintah mengeluarkan Perppu. Dia menilai, para pimpinan Polri merasa lelah dengan aksi terorisme yang terjadi saat ini, terlebih tidak ada payung hukum yang memadahi dalam menangkal aksi terorisme tersebut.

"Tapi pilihan politik dari koalisi partai pendukung pemerintah itu lebih mendorong untuk UU ini diselesaikan di DPR daripada melalui Perppu. Dan presiden juga sudah cukup bijak. Karena presiden kan juga intinya pagi ini menyampaikan bahwa perppu hanya dikelurkan kalau ternyata UU nya tidak bisa diselesaikan," pungkasnya.


K. Revisi Undang-undang (UU) Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme tidak perlu diperdebatkan.

Setara Institute meminta agar definisi mengenai terorisme dalam revisi Undang-undang (UU) Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme tidak perlu diperdebatkan.

Pasalnya, terorisme dianggap sebagai musuh kemanusiaan yang bisa jadi diekspresikan oleh keyakinan keagamaan yang keliru tanpa motif politik apapun.

"Setara Institute menaruh perhatian serius pada perdebatan
tentang definisi terorisme," ujar Ketua Setara Institute Hendardi di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta (14/5/2018).

Dia mengatakan, pihak-pihak yang mengupayakan definisi terorisme dengan mengaitkannya pada ada tidaknya motif politik dan mengarah pada tindakan subversi, jelas tidak memahami perkembangan mutakhir pola rekrutmen dan operasi aktor-aktor terorisme.

Menurutnya, pembatasan pada ada tidaknya motif politik sebagai unsur terorisme bertolak belakang dengan hakikat tindakan teror yang ditujukan untuk menyebarkan rasa takut pada publik seluas-luasnya.

"Motivasi tindakan tersebut bisa bermacam-macam dan tidak bisa disimplikasi dengan klausul ada tidaknya motivasi politik kekuasaan," ungkapnya.

Kata Hendardi, bahwa terorisme adalah musuh kemanusiaan yang bisa jadi diekspresikan oleh keyakinan keagamaan yang keliru tanpa motif politik apapun.

"Berbagai peristiwa teror belakang ini, semestinya mendorong DPR tidak lagi berdebat soal definisi, tetapi cukup memastikan ada tidaknya jejaring kelompok teror pada diri pelaku. Sepanjang tidak bisa dibuktikan keterkaitannya, maka tindakan tersebut adalah tindakan kriminal biasa," ungkapnya.


L. Langkah Reaksioner Pemerintah yang tidak perlu dilakukan

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menilai rencana pemerintah, dalam hal ini Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mendata nomor seluler dan akun media sosial mahasiswa dan dosen adalah langkah reaksioner yang tidak perlu dilakukan.

“Ada 7,5 juta mahasiswa, 300 ribu dosen dan 200 ribu tenaga kependidikan di seluruh Indonesia, sehingga ada sekitar 8 juta yang mesti diawasi. Tentu berat sekali untuk mengawasi itu semua. Padahal Kemenristekdikti masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan terkait pendidikan tinggi di negeri ini,” ujar Fikri dalam rilisnya yang diterima Parlementaria, Kamis, (7/6/2018).

Menurutnya, menanggulangi terorisme yang berkembang tidak dapat diselesaikan dengan langkah reaksioner, tetapi harus dilakukan dengan pikiran panjang dan tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat.

“Terorisme, isme, itu kan paham. Terbentuk dari proses yang panjang sehingga kita juga perlu memahami penyelesaiannya juga merupakan proses yang panjang,” jelas politisi PKS itu.

Ia sepakat bahwa untuk menangkalnya, perlu dilakukan langkah yang sistematis dan menyentuh konsep pendidikan. Mengingat pendidikan merupakan proses yang membentuk pengetahuan dan paham dalam diri seseorang. Ia menekankan, perlunya grand design pendidikan yang memadai. “Kita selama ini tidak punya grand design, ganti pemerintahan juga ganti kurikulum,” imbuh Fikri.

Selain itu, Fikri juga menilai operasi yang dilakukan oleh para teroris selama ini bersifat silent sehingga perlu pemerintah hendaknya juga perlu mengantisipasinya dengan langkah silent, bukan dengan ekspos besar-besaran. “Jangan-jangan memang diekspos besar-besaran hanya untuk menunjukkan bahwa pemerintah bekerja,” tandasnya.

Politisi dapil Jawa Tengah itu merasa ekspos yang saat ini berkembang sudah berlebihan, termasuk soal rilis daftar tujuh kampus negeri yang diduga terpapar radikalisme menurut BNPT memberikan dampak negatif bagi pendidikan.

“Selama ini kita sedang mendorong kampus-kampus tersebut menjadi World Class University (WCU). Rilis tersebut tentu memberikan citra negatif terhadap kampus dan dunia pendidikan kita. Ini kontraproduktif dan merugikan," pungkasnya.


M. Aksi terorisme merupakan ancaman nyata di Indonesia dan butuh penanganan yang serius menjelang Pilpres 2019

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Komjen Suhardi Alius pernah menyatakan, aksi terorisme merupakan ancaman nyata di Indonesia dan butuh penanganan yang serius. Apalagi, menjelang Pilpres 2019.

Banyak aksi-aksi terorisme yang dilancarkan menjelang pilpres ini. Di Provinsi Banten misalnya, pihaknya menemukan adanya sejumlah gerakan terorisme.

Meski demikian, dia tidak membeberkan wilayah-wilayah mana saja yang mulai terdeteksi gerakan-gerakan tersebut. Saat ini, pihaknya terus memonitoring.

Untuk melakukan pemetaan kepada masing-masing wilayah kita tidak bisa. Tapi kita tetap monitoring. Ada beberapa, yang jelas kita monitor semua," ujar Suhardi kepada Media (25/4/18).

Menurutnya, gerakan teroris bergerak di bawah tanah. Penggerebekan pabrik senpi ilegal di wilayah Gondrong, Cipondoh, beberapa waktu lalu misalnya, dia melihat senpi itu bisa saja bagian dari terorisme.

Namun, pihaknya masih belum mendapat konfirmasi lebih pasti tentang kaitan gerakan terorisme dengan pabrik senpi di Cipondoh. Semua masih ditangani polisi.

"Berikan kesempatan kepada polisi dulu. Baru nanti kita. Kita tidak bisa langsung bilang itu mengarah ke terorisme. Tapi yang pasti, mereka terus bergerak untuk mendapatkan suplai senjata," jelasnya.

Selain melalui pabrik rumahan, gerakan terorisme juga memiliki banyak cara untuk mendapat pasokan senjata. Baik dari swadaya dalam negeri, hingga luar negeri.

"Ya, macam-macam. Dulu penyelundupan senjata dari Filipina. Usaha mereka sudah ada. Di mana saja bisa terjadi. Apalagi rentang pantai kita sangat panjang sekali. Makanya dibutuhkan kontrol," paparnya.

Kontroling yang paling efektif, menurutnya harus dilakukan dengan melibatkan semua intansi. Sehingga, upaya kelompok terorisme dalam mendapatkan pasokan senjata bisa dicegah sejak dini.

"Tidak mungkin melakukan monitoring sendiri. Penyelundupan senjata itu bisa lewat mana saja. Termasuk laut. Potensi itu sangat besar. Bukan hanya senjata saja, tetapi juga narkotika," ungkapnya.

Yang tidak mengkhawatirkan, serangan terorisme dalam dunia maya atau jejaring sosial, melalui penyebaran konten-konten radikal dengan sasaran anak muda. "Berdasarkan fakta, kita buruh konter isu lebih. Makanya, kita rekrut generasi muda. Tugasnya, menyebarkan konten-konten damai dengan bahasa mereka agar mudah dimengerti kalangan mereka," jelasnya.

Untuk masuk ke kalangan remaja, dia berharap, pesan damai yang disampaikan bisa lebih tepat sasaran dan mengena. Terutama di kalangan anak muda.

"Dengan begitu, para anak muda tidak bisa kena lagi, karena mereka sudah dipagari. Di sini, mereka juga diajarkan sharing, dan memiliki kemampuan untuk memprediksi gerakan-gerakan terorisme," katanya.

Sedikitnya, ada 600 anak muda yang telah dijadikan duta damai dunia maya pencegahan lunak terorisme di Banten. Melalui duta damai ini, pihaknya berharap ada gerakan tangkal aksi terorisme.
"Di duta damai ini, kita juga punya dua program. Pertama, orang-orang yang pernah terkena virus radikal, siapa saja, baik teroris dan keluarganya, jangan dimarjinalkan di masyarakat," paparnya.

Menurutnya, para teroris itu punya hak yang sama dengan masyarakat lainnya. Terlebih, mereka juga telah menjalani hukuman berat atas perbuatannya.

"Banyak saudara kita yang sudah divonis. Beri mereka kesempatan untuk kembali lagi ke masyarakat. Kalau dia sudah baik, tapi dukungan dari masyarakat tidak ada, mereka akan hopeless," sambungnya.

Program kedua adalah, mereka yang akan menjadi sasaran dari aksi terorisme. Kelompok ini, belum terkena. Tetapi harus dijaga, jangan sampai terjerumus.

"Di sinilah pentingnya duta damai dunia maya pencegahan lunak terorisme ini. Sehingga, kemungkinan terjadinya aksi-aksi terorisme dan penyebaran paham radikalnya bisa dicegah," pungkasnya.

Sementara itu, Kikan, Duta Damai BNPT mengatakan, sebagai musisi yang mewakili kalangan muda, dirinya mengaku tertarik menjadi duta, karena ingin melawan paham radikal dan terorisme.

"Anak muda kerap dijadikan sasaran dari paham radikalisme dan aksi-aksi terorisme. Duta damai BNPT ini berfungsi untuk memutus mata rantai itu," jelasnya.
Melalui konten damai dan bahasa milenial yang disampaikan di jejaring sosial, Kikan berharap generasi muda Indonesia dan di Banten khususnya dapat terhindar dari doktrin radikalisme dan terorisme. ( web )


Load disqus comments

0 comments