Halaman

    Social Items

SUARA RAKYAT MERDEKA NEWS " SUARA KEADILAN UNTUK RAKYAT "
BERITA-BERITA TERBARU


FOTO PASUKAN ANTI TEROR

TEMANGGUNG JAWA TENGAH,(suararakyatmerdeka.com)--
Terduga teroris bernama Triyono Wagimin Atmo alias Andalus alias Abu Hilwa alias TW diduga anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) diketahui berencana melakukan amaliah atau aksi teror dengan menyerang polisi di Yogyakarta. TW merupakan terduga teroris yang ditangkap saat ada razia lalu lintas di Temanggung, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

"Hasil pemeriksaan sementara, dia sedang merencanakan aksi amaliahnya menyerang kepolisian yang ada di Yogyakarta," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Jakarta, Sabtu (23/2/19).

Polisi terus mendalami kapan amaliah itu akan dilakukan. Apalagi TW merencanakan aksi teror tersebut bersama tiga orang lainnya yang masih diburu Densus 88 Antiteror Polri. 

"Dari pengakuannya ada 3 orang yang membantu untuk melakukan penyerangan atau kepada anggota Polri untuk mengambil senjatanya. Tiga orang ini masih dalam pengejaran Densus 88, yang jelas sel tidur sudah dimonitor dan diprofil," tuturnya.
Sebelumnya, TW ditangkap sesaat setelah kabur dari razia lalu lintas di Jalan Lingkar Geneng, Kertosari - Temanggung, Jawa Tengah pada Kamis 14 Februari 2019 sekitar pukul 10.30 WIB. Dia melarikan diri ke arah sawah sementara mobilnya ditinggal di pinggir jalan.
Polisi kemudian menggeledah mobil uang ditinggalkan dan ditemukan barang bukti berupa buku-buku jihad. Polisi juga telah menggeledah di kos-kosan di wilayah Yogyakarta.
"Yang melakukan razia dari lalu lintas Polres Temanggung, tapi yang penangkapan dari Densus 88," ucap Dedi.
Pada Juni 2016, TW pernah dideportasi dari Filipina karena terindikasi hendak melakukan idad atau latihan militer bersama kelompok teroris pimpinan Abu Sayyaf di Basilian, Filipina Selatan. Latihan itu ditengarai untuk persiapan melakukan amaliah atau aksi teror di Tanah Air.
Kemudian pada Oktober 2016, dia diketahui telah mengikuti latihan militer di daerah Karang Bolong, Anyer, Banten bersama Adi Jihadis cs. Dia juga pernah merencanakan amaliah dengan modus operandi menembaki aparat kepolisian untuk merebut senjatanya



Saat Penangkapan Terduga Teroris di ‎Temanggung‎, Warga Mengira Pengendara yang Takut Razia Polisi

Ahmad Farid Nur (21) alias Afan, sedang duduk santai sembari memainkan smartphone miliknya, di sebuah depo pasir dan kayu, di ruas Jalan Lingkar Temanggung, turut Dusun Geneng, Kelurahan Kowangan, Temanggung, Kamis (14/2/19) silam.
Sehari-hari, di depo pasir milik Santo (40) itu lah, Afan bekerja.
"Saat sedang istirahat, seingat saya sekitar pukul 10.30-an, sembari main-main Hp (hand phone, red), tiba-tiba ada mobil warna hitam dari arah utara, dengan kecepatan cukup tinggi, langsung berbelok ke depan situ.

Setelah memarkirkan mobil, pengendaraanya memakai kemeja lengan panjang kotak-kotak turun dan cepat-cepat lari meloncati kalen (saluran irigasi dengan lebar sekitar dua meter, red), menuju area persawahan," ujar Afan, saat ditemui di tempat kerjanya, Jumat (22/219).

Tentu saja ia kaget melihat peristiwa itu.
Namun, sama sekali tak menyangka, pria berkemeja lengan panjang, kotak-kotak warna ‎hitam-putih itu, merupakan terduga teroris, yang selama ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Densus 88 Anti-teror.

"Kan memang waktu itu ada razia kendaraan oleh Satlantas. Saya pikir ya orang yang ketakutan terjaring razia karena tak punya SIM atau STNK," ucapnya.

Hingga razia kendaraan selesai pada sekitar pukul 11.00, orang bercelana pendek dengan tas selempang kecil di depan dada, berambut ikal agak gondrong hampir sebahu, serta berjenggot hampir sebatas leher itu tak muncul-muncul.

"Polisi kemudian menghampiri mobil itu. Tapi karena dikunci, polisi memanggil tukang kunci untuk membuka pintu mobil," terang dia.

Selain pintu, setir kemudi ‎mobil itu juga dikunci. Petugas pun telah menyiapkan derek untuk mengangkut mobil tersebut.

"Nah, saat hendak diderek oleh petugas kepolisian itu lah, orang yang tadi bergegas melarikan diri itu menghampiri petugas, dan menyatakan mobil itu miliknya," tutur Afan, kali ini didampingi oleh rekan kerjanya, Khairun Cahyadi (40) alias Kirun.

"Ya saat itu sekitar pukul 12.30, habis Dluhur. Tapi, saat menghampiri polisi yang akan menderek mobilnya itu, lelaki itu sudah ganti baju, tak lagi bercelana pendek dan berkemeja lengan panjang, melainkan mengenakan sarung dan berkaus hitam lengan pendek," sambung Afan.

Tak lama kemudian, setelah terlibat percakapan selama beberapa waktu, polisi memborgol lelaki yang belakangan diketahui sebagai Triyono Wagimin Atmo alias Andalus alias Abu Hilwa‎, itu dan memasukkan ke dalam mobil polisi.

Sementara, mobil milik terduga teroris jaringan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) itu tetap dievakuasi menggunakan derek.

"‎Jadi memang polisi tak melakukan pengepungan di area persawahan, ataupun mengejar orang yang lari tadi. Ditunggui saja di dekat mobilnya," tandasnya.

Senada disampaikan Khairun Cahyadi (40) alias Kirun, rekan kerja Afan. Ia ‎mengaku sama sekali bila lelaki berusia sekitar 30-an awal itu adalah seorang terduga teroris.

"Saat menghampiri mobil yang hendak diderek, kan ditanya-tanya sama petugas‎, orangnya juga kelihatan santai, kalem dan halus, tidak kasar," ucap Kirun.

Hanya, ditambahkan, saat polisi menggeledah mobil milik terduga teroris itu, ditemukan buku-buku soal jihad dan juga dua pasang pelat nomor lain di bagasi.

‎"Pas penggeledahan itu kan banyak warga sekitar juga yang menyaksikan," terangnya.
‎Di sisi lain, ia pun mengaku tak tahu persis di mana lelaki itu berganti baju. Menurutnya, kemungkinan besar adalah di musala atau warung makan yang ada di permukiman di samping area persawahan di kampung itu.

‎Disinggung apakah ada perlawanan, saat polisi berusaha mengamankan lelaki terduga teroris terseut, Kirun menampik. Menurutnya, tak ada perlawanan apalagi aksi baku tembak.


"Tak ada pengepungan, atau perlawanan, orangnya nurut saja saat mau dibawa polisi. Saya juga sama sekali tak mengira sebelumnya jika orang itu terduga teroris," pungkasnya.

‎Sementara itu, Kapolres Temanggung, AKBP Wiyono Eko Prasetyo, irit bicara terkait penangkapan terduga teroris di wilayah Kota Tembakau. Ia pun menyarankan agar langsung menghubungi Polda Jateng, untuk kejelasan informasi lebih lanjut.

"‎Tolong langsung ke pak Kabid Humas Polda nggih. Data sudah di beliau semua," kata Wiyono, melalui layanan pesan singkat WhatsApp (WA).

Sebelumnya diberitakan, Polri berhasil mengamankan seorang pria, Triyono Wagimin Atmo alias Andalus alias Abu Hilwa, saat razia kendaraan oleh Satlantas Polres Temanggung, Kamis (14/2/19) silam.

TERDUGA TERORIS DITANGKAP BERENCANA SERANG POLISI



FOTO PASUKAN ANTI TEROR

TEMANGGUNG JAWA TENGAH,(suararakyatmerdeka.com)--
Terduga teroris bernama Triyono Wagimin Atmo alias Andalus alias Abu Hilwa alias TW diduga anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) diketahui berencana melakukan amaliah atau aksi teror dengan menyerang polisi di Yogyakarta. TW merupakan terduga teroris yang ditangkap saat ada razia lalu lintas di Temanggung, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

"Hasil pemeriksaan sementara, dia sedang merencanakan aksi amaliahnya menyerang kepolisian yang ada di Yogyakarta," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Jakarta, Sabtu (23/2/19).

Polisi terus mendalami kapan amaliah itu akan dilakukan. Apalagi TW merencanakan aksi teror tersebut bersama tiga orang lainnya yang masih diburu Densus 88 Antiteror Polri. 

"Dari pengakuannya ada 3 orang yang membantu untuk melakukan penyerangan atau kepada anggota Polri untuk mengambil senjatanya. Tiga orang ini masih dalam pengejaran Densus 88, yang jelas sel tidur sudah dimonitor dan diprofil," tuturnya.
Sebelumnya, TW ditangkap sesaat setelah kabur dari razia lalu lintas di Jalan Lingkar Geneng, Kertosari - Temanggung, Jawa Tengah pada Kamis 14 Februari 2019 sekitar pukul 10.30 WIB. Dia melarikan diri ke arah sawah sementara mobilnya ditinggal di pinggir jalan.
Polisi kemudian menggeledah mobil uang ditinggalkan dan ditemukan barang bukti berupa buku-buku jihad. Polisi juga telah menggeledah di kos-kosan di wilayah Yogyakarta.
"Yang melakukan razia dari lalu lintas Polres Temanggung, tapi yang penangkapan dari Densus 88," ucap Dedi.
Pada Juni 2016, TW pernah dideportasi dari Filipina karena terindikasi hendak melakukan idad atau latihan militer bersama kelompok teroris pimpinan Abu Sayyaf di Basilian, Filipina Selatan. Latihan itu ditengarai untuk persiapan melakukan amaliah atau aksi teror di Tanah Air.
Kemudian pada Oktober 2016, dia diketahui telah mengikuti latihan militer di daerah Karang Bolong, Anyer, Banten bersama Adi Jihadis cs. Dia juga pernah merencanakan amaliah dengan modus operandi menembaki aparat kepolisian untuk merebut senjatanya



Saat Penangkapan Terduga Teroris di ‎Temanggung‎, Warga Mengira Pengendara yang Takut Razia Polisi

Ahmad Farid Nur (21) alias Afan, sedang duduk santai sembari memainkan smartphone miliknya, di sebuah depo pasir dan kayu, di ruas Jalan Lingkar Temanggung, turut Dusun Geneng, Kelurahan Kowangan, Temanggung, Kamis (14/2/19) silam.
Sehari-hari, di depo pasir milik Santo (40) itu lah, Afan bekerja.
"Saat sedang istirahat, seingat saya sekitar pukul 10.30-an, sembari main-main Hp (hand phone, red), tiba-tiba ada mobil warna hitam dari arah utara, dengan kecepatan cukup tinggi, langsung berbelok ke depan situ.

Setelah memarkirkan mobil, pengendaraanya memakai kemeja lengan panjang kotak-kotak turun dan cepat-cepat lari meloncati kalen (saluran irigasi dengan lebar sekitar dua meter, red), menuju area persawahan," ujar Afan, saat ditemui di tempat kerjanya, Jumat (22/219).

Tentu saja ia kaget melihat peristiwa itu.
Namun, sama sekali tak menyangka, pria berkemeja lengan panjang, kotak-kotak warna ‎hitam-putih itu, merupakan terduga teroris, yang selama ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Densus 88 Anti-teror.

"Kan memang waktu itu ada razia kendaraan oleh Satlantas. Saya pikir ya orang yang ketakutan terjaring razia karena tak punya SIM atau STNK," ucapnya.

Hingga razia kendaraan selesai pada sekitar pukul 11.00, orang bercelana pendek dengan tas selempang kecil di depan dada, berambut ikal agak gondrong hampir sebahu, serta berjenggot hampir sebatas leher itu tak muncul-muncul.

"Polisi kemudian menghampiri mobil itu. Tapi karena dikunci, polisi memanggil tukang kunci untuk membuka pintu mobil," terang dia.

Selain pintu, setir kemudi ‎mobil itu juga dikunci. Petugas pun telah menyiapkan derek untuk mengangkut mobil tersebut.

"Nah, saat hendak diderek oleh petugas kepolisian itu lah, orang yang tadi bergegas melarikan diri itu menghampiri petugas, dan menyatakan mobil itu miliknya," tutur Afan, kali ini didampingi oleh rekan kerjanya, Khairun Cahyadi (40) alias Kirun.

"Ya saat itu sekitar pukul 12.30, habis Dluhur. Tapi, saat menghampiri polisi yang akan menderek mobilnya itu, lelaki itu sudah ganti baju, tak lagi bercelana pendek dan berkemeja lengan panjang, melainkan mengenakan sarung dan berkaus hitam lengan pendek," sambung Afan.

Tak lama kemudian, setelah terlibat percakapan selama beberapa waktu, polisi memborgol lelaki yang belakangan diketahui sebagai Triyono Wagimin Atmo alias Andalus alias Abu Hilwa‎, itu dan memasukkan ke dalam mobil polisi.

Sementara, mobil milik terduga teroris jaringan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) itu tetap dievakuasi menggunakan derek.

"‎Jadi memang polisi tak melakukan pengepungan di area persawahan, ataupun mengejar orang yang lari tadi. Ditunggui saja di dekat mobilnya," tandasnya.

Senada disampaikan Khairun Cahyadi (40) alias Kirun, rekan kerja Afan. Ia ‎mengaku sama sekali bila lelaki berusia sekitar 30-an awal itu adalah seorang terduga teroris.

"Saat menghampiri mobil yang hendak diderek, kan ditanya-tanya sama petugas‎, orangnya juga kelihatan santai, kalem dan halus, tidak kasar," ucap Kirun.

Hanya, ditambahkan, saat polisi menggeledah mobil milik terduga teroris itu, ditemukan buku-buku soal jihad dan juga dua pasang pelat nomor lain di bagasi.

‎"Pas penggeledahan itu kan banyak warga sekitar juga yang menyaksikan," terangnya.
‎Di sisi lain, ia pun mengaku tak tahu persis di mana lelaki itu berganti baju. Menurutnya, kemungkinan besar adalah di musala atau warung makan yang ada di permukiman di samping area persawahan di kampung itu.

‎Disinggung apakah ada perlawanan, saat polisi berusaha mengamankan lelaki terduga teroris terseut, Kirun menampik. Menurutnya, tak ada perlawanan apalagi aksi baku tembak.


"Tak ada pengepungan, atau perlawanan, orangnya nurut saja saat mau dibawa polisi. Saya juga sama sekali tak mengira sebelumnya jika orang itu terduga teroris," pungkasnya.

‎Sementara itu, Kapolres Temanggung, AKBP Wiyono Eko Prasetyo, irit bicara terkait penangkapan terduga teroris di wilayah Kota Tembakau. Ia pun menyarankan agar langsung menghubungi Polda Jateng, untuk kejelasan informasi lebih lanjut.

"‎Tolong langsung ke pak Kabid Humas Polda nggih. Data sudah di beliau semua," kata Wiyono, melalui layanan pesan singkat WhatsApp (WA).

Sebelumnya diberitakan, Polri berhasil mengamankan seorang pria, Triyono Wagimin Atmo alias Andalus alias Abu Hilwa, saat razia kendaraan oleh Satlantas Polres Temanggung, Kamis (14/2/19) silam.

No comments