Halaman

    Social Items

SUARA RAKYAT MERDEKA NEWS " SUARA KEADILAN UNTUK RAKYAT "
BERITA-BERITA TERBARU

Suararakyatmerdeka.com

Tangerang Banten, Dialog Kebangsaan yang bertemakan Kontribusi Tionghoa Indonesia dalam perjuangan melawan penjajahan serta relasi akulturasi Tionghoa dan Islam Indonesia bertempat di Restoran Kisamaun Jalan kisamaun kota Tangerang Provinsi Banten, Sabtu (06/04/2019).

Dalam dialog tersebut mengangkat sosok
Kiai Tapa sebagai sosok Pemersatu harmoni tionghoa dan islam nusantara,

Narasumber dalam Dialog tersebut Ketua Umum Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI) ,Ardy Susanto, Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, Ir.izmi Abu Bakar, Analisis Sejarah dan Budaya Tionghoa ,Kristian M.A.

Sejarah perkembangan masyarakat Cina (Tionghoa) untuk melakukan perjalanan keluar dari daratan tanah airnya sudah dimulai amat lama sekali. Masyarakat Cina merantau meninggalkan tanah air mereka menuju hampir ke seluruh pelosok dunia. Mereka membangun koloni dengan warna-warni budayanya yang khas.

Lantas bagaimana dengan etnis Tionghoa yang ada di Indonesia? Bagaimana pula dengan peran Tionghoa dalam revolusi kemerdekaan Indonesia?

Dialog tersebut diselenggarakan oleh Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia Dialog yang dihadiri kurang lebih oleh 200 peserta dan Tamu undangan dimulai pukul 14.00 Wib.

Menceritakan tentang subtansi dari Dialog tersebut.  Mengenai terminologi Tionghoa dan Tiongkok yang setelah era reformasi baru digunakan kembali.

Dalam penulisan sejarah secara internasional banyak yang menggunakan istilah Cina atau China dari pada istilah Tionghoa atau Tiongkok. Walaupun sampai sekarang masih banyak tempat, restaurant atau mall yang menggunakan nama Cina Town ataupun Cina Emporium.

 Istilah Tionghoa da Tiongkok, yang saya tahu dari sudut pandang filsafat politik, Tiong adalah tengah, Hoa adalah bangsa, artinya bangsa yang ditengah. Dan Tiong artinya tengah, Kok adalah kerajaan. Maksudanya secara idealisme kerajaan yang berpengaruh kekuasaan meliputi di seluruh dunia. Oleh karena itu pada masa penjajahan Belanda karena merasa sebagai warga kelas dua, di antara Vreemde Oosterlingen—Bangsa Timur Asing (Cina, Arab dan India), bangsa Tionghoa harus dipanggil prianya dengah Engkoh—kakak, atau Encim untuk wanitanya.

Sedangkan China atau Cina sebutan emigrant yang datang dari daratan Cina, pada saat itu rajanya bernama Chin. Jadi Cina lebih netral, tidak berpengertian politik sebagai pengembangan kekuasaan, seperti Tionghoa. Dengan demikian Cina artinya hanya sebagai emigrant pendatang semata. Sehingga pribumi menggangap akrab dan sederajat. Tidak ekslusif sebagai Bangsa Timur Asia sejalan dengan yang dikehendaki oleh penjajah Belanda.

Masuk kedalam isi dari Dialog tersebut. periode revolusi kemerdekaan merupakan bagian penting dari sejarah Indonesia yang berisikan kisah perjuangan diberbagai bidang seperti diplomasi, militer, jurnalisme, sastra, kesehatan, dan lain sebagainya. Di antara komponen bangsa yang turut berjuang dalam revolusi kemerdekaan adalah masyarakat Tionghoa. Peran serta mereka di dalam tahap awal berdirinya Republik Indonesia menunjukan bahwa orang Tionghoa, seperti juga kelompok masyarakat lain, merasa Indonesia adalah tanah air mereka yang kedaulatanya wajib mereka bela.


Disana-sini terdapat beberapa Tionghoa peranakan dan totok yang bersimpati dan berjuang dipihak Republik Indonesia.

Sikap mayoritas etnis Tionghoa adalah mengharapakan perlindungan Republik Tiongkok, yang selepas Perang Dunia II ikut menjadi salah satu anggota “The Big Five”, lima Negara pemenang perang. Dengan demikian, mayoritas etnis Tionghoa akhirnya memilih sikap netral dalam konflik Indonesia Belanda.

Orang terutama dari Jawa Tengah bisa saja mengira Kyai Tapa berkaitan dengan kata “pertapa”. Tetapi ternyata bukan. Kyai Tapa berasal dari Mustafa;  Kyai Tapa diketahui juga seorang keturunan Tionghoa, dengan nama  Thung Siang Toh; saudara seayah dengan Sultan Banten,  Zainul Ariffin (1733-1748).  Kyai Tapa, seorang guru agama  adalah tokoh penting dalam pemberontakan Banten di abad ke-18 bersama dengan Ratu Bagus Buang, keponakan Sultan Zainul Arifin.

Pemberontakannya yang mula-mula ditujukan pada Ratu Sarifa Fatimah yang dengan dukungan Gubernur Jendral VOC, Baron Van Imhoff, menyingkirkan Sultan yang juga suaminya sendiri  Zainul Arifin (meninggal dalam pembuangan di Ambon) dan sebelumnya juga berhasil menyingkirkan Pangeran Gusti, putera mahkota ke Ceylon,  justru semakin membesar dan mulai mengarah pada Pusat Kekuasaan VOC di Batavia.

Namun begitu Van Imhoff meninggal, Gubernur Jendral penggantinya, Mossel, bertindak sebaliknya yaitu untuk meredam pemberontakan Kyai Tapa dan Ratu Bagus Buang, Ratu Sarifa yang telah menjadi wali sultan untuk putera mahkota baru: Syarif Abdullah, yang tak lain adalah keponakan sendiri pun ditangkap.  Bagi Mossel, Ratu Sarifa yang tidak mempunyai darah Dinasti Banten adalah biang kekacauan Banten karena berambisi  hendak mengambil alih Kasultanan Banten. Ratu Sarifa pun hendak dibuang ke Saparua tapi meninggal dalam penahanan di Pulau Edam, Kepulauan Seribu. Lantas dimakamkan juga di Pulau Edam.

Takhta Kasultanan pun dikembalikan pada putra mahkota, Pangeran Gusti.  Untuk sementara sambil menunggu kembalinya putra mahkota dari pembuanga, diangkatlah adik Sultan Zainul Arifin, yaitu Pangeran Arya Adi Santika sebagai Wali Sultan.  Dukungan terhadap Arya Santika ini disertai dengan perjanjian bahwa Lampung diserahkan pada VOC.

Tetapi pemberontakan Kyai Tapa melawan penjajahan VOC terus berlanjut malahan mengangkat Ratu Bagus Buang sebagai Sultan. Akhirnya pemberontakan Kyai Tapa pun bisa diredam dengan kekerasan. Pada tahun 1753, Banten pun aman terkendali. Pangeran Arya Santika turun takhta dan menyerahkan kekuasaan Banten pada putra mahkota, Pangeran Gusti,  yang kemudian dikenal sebagai Sultan Zainul Asyikin.

Kekalahan Kyai Tapa dan Penobatan Pangeran Gusti sebagai  Sultan Zainul Asyikin (1753-1777) menandai berakhirnya kemerdekaan politik Banten dan berkuasanya sepenuhnya Perkumpulan Dagang VOC, (Verenigde Oost Indische Compagnie- Persatuan Perkongsian Dagang Hindia Timur) atas Banten. Kasultanan Banten sebagaimana kita ketahui  akhirnya dihapuskan pada tahun 1808 oleh Gubernur Jendral Daendels setelah terlebih dahulu kratonnya dihancurkan. Datangnya Inggris tidak mengembalikan Kasultanan Banten. Justru penjajah Inggris mengukuhkan berakhirnya Kesultanan Banten.  Pada  tahun 1813,  Raffles sebagai Gubernur Jendral mewakili Pemerintahan kolonial Inggris melucuti  Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin dan memaksanya turun takhta.

Bagaimana dengan Kyai Tapa, tokoh kita kali ini? Setelah pertempuran penghabisan di Banten menghadapi gempuran VOC pada September 1751, Kyai Tapa berhasil menyelamatkan diri dan terus  melakukan pertempuran sporadis di sekitar Selat Sunda, Bandung dan Bogor. Perlawanan terhadap penjajah VOC membawa dirinya  terlibat dalam konflik Mataram. Pasca Perjanjian Giyanti yang membagi Mataram menjadi dua: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, Kyai Tapa pun  menghilang.

Masyarakat Cina Benteng Banten adalah sebutan masyarakat tionghoa di Tangerang Banten, diyakini menurut sejarah memiliki hubungan erat tentang sejarah perjuangan Kiai Tapa terhadap perjuangan bangsa melawan panjajah kolonial Hindia Belanda atau VOC.(khoer/uje/padil/fatah)

Kontribusi Tionghoa Indonesia Dalam Perjuangan Melawan Penjajah Serta Relasi Akulturasi


Suararakyatmerdeka.com

Tangerang Banten, Dialog Kebangsaan yang bertemakan Kontribusi Tionghoa Indonesia dalam perjuangan melawan penjajahan serta relasi akulturasi Tionghoa dan Islam Indonesia bertempat di Restoran Kisamaun Jalan kisamaun kota Tangerang Provinsi Banten, Sabtu (06/04/2019).

Dalam dialog tersebut mengangkat sosok
Kiai Tapa sebagai sosok Pemersatu harmoni tionghoa dan islam nusantara,

Narasumber dalam Dialog tersebut Ketua Umum Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI) ,Ardy Susanto, Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, Ir.izmi Abu Bakar, Analisis Sejarah dan Budaya Tionghoa ,Kristian M.A.

Sejarah perkembangan masyarakat Cina (Tionghoa) untuk melakukan perjalanan keluar dari daratan tanah airnya sudah dimulai amat lama sekali. Masyarakat Cina merantau meninggalkan tanah air mereka menuju hampir ke seluruh pelosok dunia. Mereka membangun koloni dengan warna-warni budayanya yang khas.

Lantas bagaimana dengan etnis Tionghoa yang ada di Indonesia? Bagaimana pula dengan peran Tionghoa dalam revolusi kemerdekaan Indonesia?

Dialog tersebut diselenggarakan oleh Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia Dialog yang dihadiri kurang lebih oleh 200 peserta dan Tamu undangan dimulai pukul 14.00 Wib.

Menceritakan tentang subtansi dari Dialog tersebut.  Mengenai terminologi Tionghoa dan Tiongkok yang setelah era reformasi baru digunakan kembali.

Dalam penulisan sejarah secara internasional banyak yang menggunakan istilah Cina atau China dari pada istilah Tionghoa atau Tiongkok. Walaupun sampai sekarang masih banyak tempat, restaurant atau mall yang menggunakan nama Cina Town ataupun Cina Emporium.

 Istilah Tionghoa da Tiongkok, yang saya tahu dari sudut pandang filsafat politik, Tiong adalah tengah, Hoa adalah bangsa, artinya bangsa yang ditengah. Dan Tiong artinya tengah, Kok adalah kerajaan. Maksudanya secara idealisme kerajaan yang berpengaruh kekuasaan meliputi di seluruh dunia. Oleh karena itu pada masa penjajahan Belanda karena merasa sebagai warga kelas dua, di antara Vreemde Oosterlingen—Bangsa Timur Asing (Cina, Arab dan India), bangsa Tionghoa harus dipanggil prianya dengah Engkoh—kakak, atau Encim untuk wanitanya.

Sedangkan China atau Cina sebutan emigrant yang datang dari daratan Cina, pada saat itu rajanya bernama Chin. Jadi Cina lebih netral, tidak berpengertian politik sebagai pengembangan kekuasaan, seperti Tionghoa. Dengan demikian Cina artinya hanya sebagai emigrant pendatang semata. Sehingga pribumi menggangap akrab dan sederajat. Tidak ekslusif sebagai Bangsa Timur Asia sejalan dengan yang dikehendaki oleh penjajah Belanda.

Masuk kedalam isi dari Dialog tersebut. periode revolusi kemerdekaan merupakan bagian penting dari sejarah Indonesia yang berisikan kisah perjuangan diberbagai bidang seperti diplomasi, militer, jurnalisme, sastra, kesehatan, dan lain sebagainya. Di antara komponen bangsa yang turut berjuang dalam revolusi kemerdekaan adalah masyarakat Tionghoa. Peran serta mereka di dalam tahap awal berdirinya Republik Indonesia menunjukan bahwa orang Tionghoa, seperti juga kelompok masyarakat lain, merasa Indonesia adalah tanah air mereka yang kedaulatanya wajib mereka bela.


Disana-sini terdapat beberapa Tionghoa peranakan dan totok yang bersimpati dan berjuang dipihak Republik Indonesia.

Sikap mayoritas etnis Tionghoa adalah mengharapakan perlindungan Republik Tiongkok, yang selepas Perang Dunia II ikut menjadi salah satu anggota “The Big Five”, lima Negara pemenang perang. Dengan demikian, mayoritas etnis Tionghoa akhirnya memilih sikap netral dalam konflik Indonesia Belanda.

Orang terutama dari Jawa Tengah bisa saja mengira Kyai Tapa berkaitan dengan kata “pertapa”. Tetapi ternyata bukan. Kyai Tapa berasal dari Mustafa;  Kyai Tapa diketahui juga seorang keturunan Tionghoa, dengan nama  Thung Siang Toh; saudara seayah dengan Sultan Banten,  Zainul Ariffin (1733-1748).  Kyai Tapa, seorang guru agama  adalah tokoh penting dalam pemberontakan Banten di abad ke-18 bersama dengan Ratu Bagus Buang, keponakan Sultan Zainul Arifin.

Pemberontakannya yang mula-mula ditujukan pada Ratu Sarifa Fatimah yang dengan dukungan Gubernur Jendral VOC, Baron Van Imhoff, menyingkirkan Sultan yang juga suaminya sendiri  Zainul Arifin (meninggal dalam pembuangan di Ambon) dan sebelumnya juga berhasil menyingkirkan Pangeran Gusti, putera mahkota ke Ceylon,  justru semakin membesar dan mulai mengarah pada Pusat Kekuasaan VOC di Batavia.

Namun begitu Van Imhoff meninggal, Gubernur Jendral penggantinya, Mossel, bertindak sebaliknya yaitu untuk meredam pemberontakan Kyai Tapa dan Ratu Bagus Buang, Ratu Sarifa yang telah menjadi wali sultan untuk putera mahkota baru: Syarif Abdullah, yang tak lain adalah keponakan sendiri pun ditangkap.  Bagi Mossel, Ratu Sarifa yang tidak mempunyai darah Dinasti Banten adalah biang kekacauan Banten karena berambisi  hendak mengambil alih Kasultanan Banten. Ratu Sarifa pun hendak dibuang ke Saparua tapi meninggal dalam penahanan di Pulau Edam, Kepulauan Seribu. Lantas dimakamkan juga di Pulau Edam.

Takhta Kasultanan pun dikembalikan pada putra mahkota, Pangeran Gusti.  Untuk sementara sambil menunggu kembalinya putra mahkota dari pembuanga, diangkatlah adik Sultan Zainul Arifin, yaitu Pangeran Arya Adi Santika sebagai Wali Sultan.  Dukungan terhadap Arya Santika ini disertai dengan perjanjian bahwa Lampung diserahkan pada VOC.

Tetapi pemberontakan Kyai Tapa melawan penjajahan VOC terus berlanjut malahan mengangkat Ratu Bagus Buang sebagai Sultan. Akhirnya pemberontakan Kyai Tapa pun bisa diredam dengan kekerasan. Pada tahun 1753, Banten pun aman terkendali. Pangeran Arya Santika turun takhta dan menyerahkan kekuasaan Banten pada putra mahkota, Pangeran Gusti,  yang kemudian dikenal sebagai Sultan Zainul Asyikin.

Kekalahan Kyai Tapa dan Penobatan Pangeran Gusti sebagai  Sultan Zainul Asyikin (1753-1777) menandai berakhirnya kemerdekaan politik Banten dan berkuasanya sepenuhnya Perkumpulan Dagang VOC, (Verenigde Oost Indische Compagnie- Persatuan Perkongsian Dagang Hindia Timur) atas Banten. Kasultanan Banten sebagaimana kita ketahui  akhirnya dihapuskan pada tahun 1808 oleh Gubernur Jendral Daendels setelah terlebih dahulu kratonnya dihancurkan. Datangnya Inggris tidak mengembalikan Kasultanan Banten. Justru penjajah Inggris mengukuhkan berakhirnya Kesultanan Banten.  Pada  tahun 1813,  Raffles sebagai Gubernur Jendral mewakili Pemerintahan kolonial Inggris melucuti  Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin dan memaksanya turun takhta.

Bagaimana dengan Kyai Tapa, tokoh kita kali ini? Setelah pertempuran penghabisan di Banten menghadapi gempuran VOC pada September 1751, Kyai Tapa berhasil menyelamatkan diri dan terus  melakukan pertempuran sporadis di sekitar Selat Sunda, Bandung dan Bogor. Perlawanan terhadap penjajah VOC membawa dirinya  terlibat dalam konflik Mataram. Pasca Perjanjian Giyanti yang membagi Mataram menjadi dua: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, Kyai Tapa pun  menghilang.

Masyarakat Cina Benteng Banten adalah sebutan masyarakat tionghoa di Tangerang Banten, diyakini menurut sejarah memiliki hubungan erat tentang sejarah perjuangan Kiai Tapa terhadap perjuangan bangsa melawan panjajah kolonial Hindia Belanda atau VOC.(khoer/uje/padil/fatah)

No comments