Halaman

    Social Items

BERITA-BERITA TERBARU


Suararakyatmerdeka.com

WARTAWAN itu profesi? Karena pekerjaannya mesti dikerjakan secara professional. Terutama, ngerti tenggat waktu – deadline. Tak bisa tidak, ada unsur disiplin, di situ. Namun yang jelas, mesti kelayaban – kata lain blusukan – ke mana pun. Juga bertemu dengan nara sumber yang berbagai-bagai dan siapa pun. Meski kadang harus ngepos di tempat tertentu. Misal, di Istana atau Rumah Rakyat DPR, dan seterusnya.

Lepas dari masalah itu, ada asyiknya. Sehingga tak salah benar, jadi wartawan itu mengasyikkan. Bisa jalan-jalan gratis, ketemu orang-orang hebat, dan seterusnya. Meski ada risiko-risiko yang kadang meminta nyawa bagi praktisi di dunia ini. Tak masalah. Mungkin pula bagi orang tertentu, karena panggilan, atau kata lain cinta. Nah, kalau sudah cinta? Tahi kebo pun dibilang cokelat?

Dari pekerjaan yang sudah kulakukan lebih separo usia awak yang tak lagi muda, memang bisa bertemu artis cantik – bahkan semisal Anggun C Sasmi saya kenal sejak ia melorotkan rok di depanku. Ketemu dan mewawancarai orang sekelas menteri, bahkan presiden.

Soal, pengalaman dengan presiden, justru ada hal yang tak mengenakan dan menggelikan. Yakni saat akan meliput Raimuna (1986) di Cibubur, Jakarta Timur. Karena ketat kelas RI-1, saya yang sudah mendapatkan ID Card, memilih nginep di rumah teman dekat Bumi Perkemahan. Mengambil praktisnya.

Sayang, waktu terkejar, namun lupa berperlengkapan meliput yang dihadiri RI-1 Soeharto dan tamu-tamu asing. Yakni tak bersepatu. Ini karena kebiasaanku hanya bersepatu sandal, seperti Gus Dur yang kerap saya temui saat itu. Kupikir, ya sudahlah. Toh aku tak perlu mendekat ke Ring Satu. Soal gambar? Sudah ada fotografer yang datang dari tempat lain.

Upacara pagi pembukaan Pesta Pramuka sekelas Raimuna pun berlangsung. Dan saya ada di situ. Saya yang membawa camera, jadi teringat teman untuk meminta film (ini era belum digital dan HP belum ada). Gatel untuk memotret, melihat betapa takjubnya adik-adik dari berbagai daerah ikut upacara dan ada orang paling kuat era Orba.

Tapi apa daya? Aku kena semprit. Dipanggil paswalpres karena … kedapatan tak bersepatu. Dan bla-bla: dari media mana, ini ada tamu negara kenapa tak sopan, dan seterusnya. Satu ngotot, mengambil ID Card, meski satunya memintaku minggir dari Ring Satu saja.

Maka pulanglah ke kantor dengan naik taksi (jalan tol Jagorawi sudah jadi). Sampai di kantor, teman-teman tertawa. Rupanya berita dan insiden pencabutan ID-ku segera sampai di kantor lebih dulu. (Mungkin paswalpres mikir, jangan-jangan TS ini teroris). Hahaha.

Begitulah. Meski esoknya, mendapatkan ID Card lagi, dan meliput di Cibubur selama sepekan penuh. Tidak pakai semprit-sempritan lagi dari yang biasa mengelilingi Presiden.

Satu tiang listrik satu dengan tiang listrik satu, di situ ada berita, kata seorang jurnalis yang pernah jadi menteri. Dan menjadi atasanku. Apa iya? Ah, maksudnya radar seorang jurnalis mesti peka, dan dibuka selebar-selebarnya. Sehingga kadang improvisasi mesti dilakukan. Yakni ketika tahun 1991, sehabis mewawancarai seorang artis di bilangan Kebayoran, sambil menunggu bis kota yang ke arah kantor, aku ada di halte di sudut terminal Blok M.

“Priiit …priitt …!”

Wah, kena semprit lagi, pikirku. Namun tidak. Ternyata para Satpol – Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta sedang mengadakan garukan alias penertiban pedagang Kali Lima. Secara sigap, tas kurogoh untuk mengambil camera. Namun sebelum camera tersentuh, terdengar benturan keras, “Braaak …!’

Pedagang asongan dan pedagang gerobak yang berserabutan karena takut terjaring Petugas Satpol PP menabrak seorang ibu yang mengendong bayi.

“Huuuaaaa … huuaaa … anakku matiiii …!” seru si Ibu muda berpenampilan sederhana seraya mendekap bayi yang tergeletak di atas aspal. Tak bergerak.

Karuan, orang-orang yang ada di sekitar, termasuk di halte Dekat Hotel Ambhara di mana aku berdiri, terkesima. Satpol yang tadi mengejar-ngejar pun, meninggalkan arena. Ini mungkin istilah pas, “Tinggal glanggang colong playu ala Soeharto” pikirku.

Entah tarikan cinta kepada sesama, aku yang segera menolong Ibu muda yang kalap berterik-teriak. Sementara di pemilik gerobak penjual es, hanya bisa bengong. Apalagi melihat ibu muda menangisi bayinya, dan sesekali meraung-raung seraya menggebuki dadanya. “Abang mesti bertanggung jawab. Abang akan dibunuh engkong anak gua,” serunya.

Inilah rupanya yang membuat siapa pun minggir. Dan sosiologis orang-orang kota, biasa. Tak ingin kecipratan darah persoalan. Meski ini ini menyangkut sebuah nyawa.

“Kita bawa ke Rumah Sakit saja, Bu,” kataku.

Penjual es itu bak kerbau dicokok, menurut. Meski wajahnya kosong, dan kemudian bilang kepadaku, “Saya nggak punya uang, Mas,” katanya di dalam taksi, di bangku belakang bersamaku. Aku hanya mengelus lengannya yang dingin, sambil mengangguk ke arahnya.

Taksi ke RS Pertamina, (sekian tahun kemudian) RS di mana anak seorang menteri pernah diperiksa di situ, untuk kasus penghilangan dua nyawa. Sepanjang jalan yang kelewat pendek itu, si ibu terus meraung-raung – bisa dipahami mengingat si kecil yang dalam gendongannya tak bergerak.

“Abang mesti ketemu engkong anakku,” katanya terus-menerus. Karena ketakutan dan panik.

Singkatnya, bayi belum bisa jalan itu di ICU, dan kami tinggal. Bertiga dengan si Ibu muda itu, kami melanjutkan ke rumahnya yang tak jauh. Lagi-lagi, naik taksi dan penjual es yang belum laku dagangannya hanya memegang tanganku.

“Nah, itu bapakku!” kata Ibu si Anak yang belum jelas statusnya: meninggal atau tidak.

Benar, seperti yang disebutkansi Ibu muda, kakek bertelanjang baju itu seorang galak. Lebih-lebih dengan diceritai anaknya. Dan entah dari mana asalnya, tahu-tahu sudah ada golok di tangannya. “Lu utang nyawe, kudu dibales dengan nyawe …!” serunya.

Si Penjual es hanya bisa memegangi lenganku. Terus terang, aku juga keder. Lalu kepikiran, “Kenapa mesti ikut ribet-ribet seperti ini?”

Wah, gawat.

Lebih-lebih muncul adik si ibu muda. Lalu tanpa ba-bu ba-bu lagi, main gampar ke penjual es itu. (Untung bukan aku. Apes deh kalau ikut digaplok).

“Lu siapa? Jangan coba-coba mbelain. Tapi kagak ape kalau mau duel ame gue,” katanya kepadaku.

Rasanya yang beginian, bukan pekerjaanku. Alamak. Susah sekali keadaan saat itu. Mana si Ibu muda itu terus memprovokasi kakek dan adiknya. Sampai akhirnya aku berkata, entah dari mana kekuatan itu. Ini menyangkut masalah pertumpahan darah. Harus dicegah.

“Gini, Pak. Saya nggak kenal abang ini.”

“Trus?”

“Saya ini lagi berdiri menunggu bis untuk balik ke kantor.”

“Nah, trus? Awas lu boong, dan kalau sampai cucu gua mati.”

Aku menelan ludah.

“Pak, saya ini wartawan. Saya ini ….”

Tiba-tiba bapak itu melepaskan goloknya, dan mengangguk-angguk. Wajahnya mengendur. “Bilang dong dari tadi, kalau lu wartawan.”

Apa yang mesti kulakukan? Kecuali menyebut kebesaran Tuhan. Bahwa hari itu tak terjadi hal-hal yang bisa kutulis sebagai berita – atau aku ikut terkapar? Entahlah. Ini sebuah keajaiban. Bagaimana tidak? Apa hubungannya kejadian dramatis itu dengan profesiku? Tersebab saat itu profesi jurnalis masih sedikit dan banyak yang idealis -- setidaknya belum meng-industri secara ketat seperti era digital sekarang.

Yang lebih menggembirakan, saat kami bersama-sama ke RS Pertamina dan mendapati kabar, bahwa bayi itu “tak apa-apa”. Engkong si Bayi berterima kasih dan menyalamiku. Dan aku tak bisa membaca Abang Penjual es gerobak itu. Paling tidak, mesti membayar tagihan dari RS. Apa meminta ke Satpol PP? Waktu itu tak ada kartu sehat ala Jokowi. Tapi masuk ke RS Swasta besar sekelas Pertamina?

Tiba kembali di kantor, aku cerita kepada teman-teman. Mereka rata-rata tak habis pikir dengan apa yang kulakukan itu. Tapi yang namanya cinta, dan cinta perdamaian? Tak bisa tidak mesti kujalankan. *

Maaf, Saya tertidur di Bale  Warung depan kantor Kecamatan.


Saya Menulis karena Cinta
Edisi: Jurnalis (ilustrasi dari: kata-wahyu. blogspot.com/kompasiana)



Maaf !!! Saya Wartawan, Tertidur Di Bale Di Depan Warung Kecamatan



Suararakyatmerdeka.com

WARTAWAN itu profesi? Karena pekerjaannya mesti dikerjakan secara professional. Terutama, ngerti tenggat waktu – deadline. Tak bisa tidak, ada unsur disiplin, di situ. Namun yang jelas, mesti kelayaban – kata lain blusukan – ke mana pun. Juga bertemu dengan nara sumber yang berbagai-bagai dan siapa pun. Meski kadang harus ngepos di tempat tertentu. Misal, di Istana atau Rumah Rakyat DPR, dan seterusnya.

Lepas dari masalah itu, ada asyiknya. Sehingga tak salah benar, jadi wartawan itu mengasyikkan. Bisa jalan-jalan gratis, ketemu orang-orang hebat, dan seterusnya. Meski ada risiko-risiko yang kadang meminta nyawa bagi praktisi di dunia ini. Tak masalah. Mungkin pula bagi orang tertentu, karena panggilan, atau kata lain cinta. Nah, kalau sudah cinta? Tahi kebo pun dibilang cokelat?

Dari pekerjaan yang sudah kulakukan lebih separo usia awak yang tak lagi muda, memang bisa bertemu artis cantik – bahkan semisal Anggun C Sasmi saya kenal sejak ia melorotkan rok di depanku. Ketemu dan mewawancarai orang sekelas menteri, bahkan presiden.

Soal, pengalaman dengan presiden, justru ada hal yang tak mengenakan dan menggelikan. Yakni saat akan meliput Raimuna (1986) di Cibubur, Jakarta Timur. Karena ketat kelas RI-1, saya yang sudah mendapatkan ID Card, memilih nginep di rumah teman dekat Bumi Perkemahan. Mengambil praktisnya.

Sayang, waktu terkejar, namun lupa berperlengkapan meliput yang dihadiri RI-1 Soeharto dan tamu-tamu asing. Yakni tak bersepatu. Ini karena kebiasaanku hanya bersepatu sandal, seperti Gus Dur yang kerap saya temui saat itu. Kupikir, ya sudahlah. Toh aku tak perlu mendekat ke Ring Satu. Soal gambar? Sudah ada fotografer yang datang dari tempat lain.

Upacara pagi pembukaan Pesta Pramuka sekelas Raimuna pun berlangsung. Dan saya ada di situ. Saya yang membawa camera, jadi teringat teman untuk meminta film (ini era belum digital dan HP belum ada). Gatel untuk memotret, melihat betapa takjubnya adik-adik dari berbagai daerah ikut upacara dan ada orang paling kuat era Orba.

Tapi apa daya? Aku kena semprit. Dipanggil paswalpres karena … kedapatan tak bersepatu. Dan bla-bla: dari media mana, ini ada tamu negara kenapa tak sopan, dan seterusnya. Satu ngotot, mengambil ID Card, meski satunya memintaku minggir dari Ring Satu saja.

Maka pulanglah ke kantor dengan naik taksi (jalan tol Jagorawi sudah jadi). Sampai di kantor, teman-teman tertawa. Rupanya berita dan insiden pencabutan ID-ku segera sampai di kantor lebih dulu. (Mungkin paswalpres mikir, jangan-jangan TS ini teroris). Hahaha.

Begitulah. Meski esoknya, mendapatkan ID Card lagi, dan meliput di Cibubur selama sepekan penuh. Tidak pakai semprit-sempritan lagi dari yang biasa mengelilingi Presiden.

Satu tiang listrik satu dengan tiang listrik satu, di situ ada berita, kata seorang jurnalis yang pernah jadi menteri. Dan menjadi atasanku. Apa iya? Ah, maksudnya radar seorang jurnalis mesti peka, dan dibuka selebar-selebarnya. Sehingga kadang improvisasi mesti dilakukan. Yakni ketika tahun 1991, sehabis mewawancarai seorang artis di bilangan Kebayoran, sambil menunggu bis kota yang ke arah kantor, aku ada di halte di sudut terminal Blok M.

“Priiit …priitt …!”

Wah, kena semprit lagi, pikirku. Namun tidak. Ternyata para Satpol – Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta sedang mengadakan garukan alias penertiban pedagang Kali Lima. Secara sigap, tas kurogoh untuk mengambil camera. Namun sebelum camera tersentuh, terdengar benturan keras, “Braaak …!’

Pedagang asongan dan pedagang gerobak yang berserabutan karena takut terjaring Petugas Satpol PP menabrak seorang ibu yang mengendong bayi.

“Huuuaaaa … huuaaa … anakku matiiii …!” seru si Ibu muda berpenampilan sederhana seraya mendekap bayi yang tergeletak di atas aspal. Tak bergerak.

Karuan, orang-orang yang ada di sekitar, termasuk di halte Dekat Hotel Ambhara di mana aku berdiri, terkesima. Satpol yang tadi mengejar-ngejar pun, meninggalkan arena. Ini mungkin istilah pas, “Tinggal glanggang colong playu ala Soeharto” pikirku.

Entah tarikan cinta kepada sesama, aku yang segera menolong Ibu muda yang kalap berterik-teriak. Sementara di pemilik gerobak penjual es, hanya bisa bengong. Apalagi melihat ibu muda menangisi bayinya, dan sesekali meraung-raung seraya menggebuki dadanya. “Abang mesti bertanggung jawab. Abang akan dibunuh engkong anak gua,” serunya.

Inilah rupanya yang membuat siapa pun minggir. Dan sosiologis orang-orang kota, biasa. Tak ingin kecipratan darah persoalan. Meski ini ini menyangkut sebuah nyawa.

“Kita bawa ke Rumah Sakit saja, Bu,” kataku.

Penjual es itu bak kerbau dicokok, menurut. Meski wajahnya kosong, dan kemudian bilang kepadaku, “Saya nggak punya uang, Mas,” katanya di dalam taksi, di bangku belakang bersamaku. Aku hanya mengelus lengannya yang dingin, sambil mengangguk ke arahnya.

Taksi ke RS Pertamina, (sekian tahun kemudian) RS di mana anak seorang menteri pernah diperiksa di situ, untuk kasus penghilangan dua nyawa. Sepanjang jalan yang kelewat pendek itu, si ibu terus meraung-raung – bisa dipahami mengingat si kecil yang dalam gendongannya tak bergerak.

“Abang mesti ketemu engkong anakku,” katanya terus-menerus. Karena ketakutan dan panik.

Singkatnya, bayi belum bisa jalan itu di ICU, dan kami tinggal. Bertiga dengan si Ibu muda itu, kami melanjutkan ke rumahnya yang tak jauh. Lagi-lagi, naik taksi dan penjual es yang belum laku dagangannya hanya memegang tanganku.

“Nah, itu bapakku!” kata Ibu si Anak yang belum jelas statusnya: meninggal atau tidak.

Benar, seperti yang disebutkansi Ibu muda, kakek bertelanjang baju itu seorang galak. Lebih-lebih dengan diceritai anaknya. Dan entah dari mana asalnya, tahu-tahu sudah ada golok di tangannya. “Lu utang nyawe, kudu dibales dengan nyawe …!” serunya.

Si Penjual es hanya bisa memegangi lenganku. Terus terang, aku juga keder. Lalu kepikiran, “Kenapa mesti ikut ribet-ribet seperti ini?”

Wah, gawat.

Lebih-lebih muncul adik si ibu muda. Lalu tanpa ba-bu ba-bu lagi, main gampar ke penjual es itu. (Untung bukan aku. Apes deh kalau ikut digaplok).

“Lu siapa? Jangan coba-coba mbelain. Tapi kagak ape kalau mau duel ame gue,” katanya kepadaku.

Rasanya yang beginian, bukan pekerjaanku. Alamak. Susah sekali keadaan saat itu. Mana si Ibu muda itu terus memprovokasi kakek dan adiknya. Sampai akhirnya aku berkata, entah dari mana kekuatan itu. Ini menyangkut masalah pertumpahan darah. Harus dicegah.

“Gini, Pak. Saya nggak kenal abang ini.”

“Trus?”

“Saya ini lagi berdiri menunggu bis untuk balik ke kantor.”

“Nah, trus? Awas lu boong, dan kalau sampai cucu gua mati.”

Aku menelan ludah.

“Pak, saya ini wartawan. Saya ini ….”

Tiba-tiba bapak itu melepaskan goloknya, dan mengangguk-angguk. Wajahnya mengendur. “Bilang dong dari tadi, kalau lu wartawan.”

Apa yang mesti kulakukan? Kecuali menyebut kebesaran Tuhan. Bahwa hari itu tak terjadi hal-hal yang bisa kutulis sebagai berita – atau aku ikut terkapar? Entahlah. Ini sebuah keajaiban. Bagaimana tidak? Apa hubungannya kejadian dramatis itu dengan profesiku? Tersebab saat itu profesi jurnalis masih sedikit dan banyak yang idealis -- setidaknya belum meng-industri secara ketat seperti era digital sekarang.

Yang lebih menggembirakan, saat kami bersama-sama ke RS Pertamina dan mendapati kabar, bahwa bayi itu “tak apa-apa”. Engkong si Bayi berterima kasih dan menyalamiku. Dan aku tak bisa membaca Abang Penjual es gerobak itu. Paling tidak, mesti membayar tagihan dari RS. Apa meminta ke Satpol PP? Waktu itu tak ada kartu sehat ala Jokowi. Tapi masuk ke RS Swasta besar sekelas Pertamina?

Tiba kembali di kantor, aku cerita kepada teman-teman. Mereka rata-rata tak habis pikir dengan apa yang kulakukan itu. Tapi yang namanya cinta, dan cinta perdamaian? Tak bisa tidak mesti kujalankan. *

Maaf, Saya tertidur di Bale  Warung depan kantor Kecamatan.


Saya Menulis karena Cinta
Edisi: Jurnalis (ilustrasi dari: kata-wahyu. blogspot.com/kompasiana)



No comments